White Muscle Syndrome (WMS), Ancaman Baru Budidaya Udang
- Redaktur: Audri Rianto
- 3 hari yang lalu
- 2 menit membaca
Tantangan penyakit pada budidaya udang seakan tidak ada habisnya. Kali ini, penyakit White Muscle Syndrome (WMS) mulai eksis dan menghantui banyak petambak. Penyakit ini berpotensi menurunkan kualitas panen, membuat petambak terpaksa melakukan panen dini demi menghindari kematian massal.

Sumber: jala.tech
Apa sebenarnya penyakit WMS ini dan bagaimana ciri-cirinya? Artikel ini akan merangkumnya dengan jelas.
Apa Itu Penyakit WMS?
WMS adalah penyakit udang yang menyerang jaringan otot, terutama di bagian abdomen. Penyakit ini membuat otot udang menjadi kaku dan sulit bergerak. Otot yang sudah terinfeksi ini akan berubah warna menjadi keruh atau putih susu.
Selain itu, kulit udang akan menjadi keropos dan lunak jika disentuh. Pada tahap lanjut, sel otot akan mengalami nekrosis atau kematian total, membuat udang tidak bisa bergerak dan mati.
Jika dilihat dari gejala yang ditimbulkan, penyakit ini sering dikaitkan dengan Infectious Myonecrosis Virus (IMNV). Namun, setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata tidak ada kaitan sama sekali antara WMS dan IMNV, artinya ada faktor lain yang menyebabkan penyakit ini.
Fase Kritis dan Dampak pada Produksi
Dilansir dari jala.tech, gejala WMS akan muncul pertama kali pada 30-50 hari setelah tebar benur, dengan fase krisis di hari 50-70. Pada rentan waktu tersebut, nilai Survival Rate akan turun drastis, artinya mulai banyak udang yang mati.
Bahkan, beberapa laporan menyebutkan pada hari ke 58, tingkat mortalitas semakin tidak terkendali.
Dugaan Penyebab White Muscle Syndrome
Para ahli percaya ada beberapa faktor yang paling berperan dalam memicu terjadinya WMS, yaitu:
1. Infeksi Bakteri PDD (Photobacterium damselae)
Infeksi bakteri Photobacterium damselae subsp. damselae (PDD) diduga kuat sebagai penyebab utama dari WMS. Bakteri ini punya kemampuan dalam memproduksi racun damselysin yang bersifat sitotoksik dan merusak jaringan. Infeksi bakteri ini umumnya bersifat sekunder yang diawali dari stres lingkungan ekstrem.
2. Buruknya Manajemen Dasar Tambak
Bahan organik dan lumpur yang menumpuk hingga menciptakan zona anaerob menjadi tempat yang paling disukai patogen untuk tumbuh. Kondisi tersebut membuat mikroba yang ada di tambak menjadi tidak seimbang, yang mana bakteri patogen akan lebih mendominasi dan meningkatkan risiko terjadinya WMS.
3. Kaitan dengan AHPND dan Vibrio
Studi menduga terdapat korelasi antara WMS dengan peningkatan bakteri Vibrio serta penyakit AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease). Lingkungan tambak yang tidak stabil semakin memudahkan patogen menyerang udang secara bersamaan.
Strategi Pencegahan dan Penanganan WMS
Penyakit ini sebaiknya dicegah demi meminimalkan risiko kerugian. Beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh petambak antara lain:
Monitoring Rutin
Lakukan monitoring dengan anco secara berkala untuk mendeteksi ada atau tidaknya perubahan warna pada otot udang.
Perbaikan Sanitasi Dasar Kolam
Pastikan bahwa limbah beserta lumpur dasar tambak terkumpul dan mengalir di saluran pembuangan (central drain) demi memudahkan pembuangan kotoran dengan baik.
Perhatikan Keseimbangan Mineral
Atur mineral dalam tambak tersedia dengan kadar yang seimbang, terutama kalsium untuk menjaga dan melindungi kontraksi otot udang serta mendukung proses molting yang sempurna.
Penguatan Imunitas Udang
Manajemen pakan harus dilakukan secara presisi untuk menghindari overfeeding. Tambahkan juga feed additive berkualitas untuk meningkatkan imunitas udang sehingga tidak mudah terinfeksi penyakit, terutama WMS.
Baca Juga




Komentar