top of page

Penyakit Berak Putih (WFD) Tidak Hanya Disebabkan oleh Satu Patogen

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 17 Mar
  • 2 menit membaca

Petambak udang sudah pasti tidak asing dengan penyakit berak putih atau White Feces Desease (WFD). Penyakit ini cukup mematikan dan butuh penanganan dengan segera demi menghindari  penurunan produksi.


 

Bertahun-tahun, EHP (Enterocytozoon hepatopenaei) dituding sebagai penyebab utama dari WFD. Setelah dilakukan penelitian mendalam, barulah terungkap bahwa EHP bukanlah satu-satunya penyebab udang mengalami infeksi.

 

Apa Itu WFD dan Mengapa Sangat Berbahaya?

Petambak pasti sering mendengar White Feces Desease atau bahkan pernah mendapati udangnya terinfeksi penyakit ini. Sejatinya, penyakit ini bekerja dengan cara merusak organ hepatopankreas, membuat pencernaannya tidak stabil hingga mengeluarkan kotoran putih.

 

Udang yang mengalami infeksi ini akan menunjukkan gejala yang khas, berupa:

  • Laju pertumbuhan yang sangat lambat.

  • Perbedaan ukuran udang yang sangat mencolok dalam satu kolam.

  • Penurunan nafsu makan secara drastis.

  • Kematian kronis (mati perlahan namun terus-menerus).

 

Duet Maut EHP dan Vibrio

Dilansir dari globalseafood.org, penelitian yang dipimpin oleh L.F. Aranguren berhasil menguak fakta bahwa WFD pada udang ternyata dihasilkan oleh serangan ganda dari dua patogen.

  1. EHP (Patogen Utama): Parasit mikrosporidia yang menyerang organ pencernaan (hepatopankreas). EHP merusak sel-sel pelapis usus udang.

  2. Vibrio parahaemolyticus (Patogen Sekunder): Jenis bakteri spesifik yang memanfaatkan kondisi usus udang yang sudah melemah akibat EHP.

 

Pola serangan yang ditemukan oleh peneliti, pertama udang akan terinfeksi EHP. Pada kondisi ini, udang belum menunjukkan tanda-tanda adanya kotoran putih. Serangan lanjutan dari bakteri Vibrio parahaemolyticus inilah yang membuat udang mulai menunjukkan gejala khas.

 

Kerjasama EHP dan Vibrio dalam Merusak Usus Udang

Dalam tubuh udang, tepatnya pada organ usus terdapat mikrobiota yang berperan dalam melindungi udang dari infeksi penyakit. Sayangnya keseimbangan mikrobiota akan terganggu ketika EHP mulai menginfeksi hepatopankreas.

 

Ketika pencernaan udang tidak dalam kondisi baik, mulailah bakteri Vibrio masuk melakukan serangan lanjutan, membuat kerusakan semakin parah. Pada kondisi tersebut, udang mulai mengeluarkan kotoran putih yang khas.

 

Fakta Lapangan di Indonesia

Hasil penelitian ini ternyata selaras dengan yang terjadi di negara penghasil udang, seperti Indonesia dan Venezuela. Udang yang menunjukkan gejala WFS secara konsisten memiliki kerusakan jaringan yang khas akibat serangan kombinasi EHP dan bakteri Vibrio.

 

Artinya, tambak butuh penanganan yang tepat, yaitu mencakup manajemen parasit dan manajemen bakteri sekaligus.

 

Strategi Pencegahan yang Tepat

Penelitian ini menegaskan bahwa untuk mengendalikan penyakit WD, petambak harus melakukan pendekatan menyeluruh. Mulai dari pemilihan benur SPF yang dengan tegas mengatakan bahwa benur terbebas dari patogen spesifik, dalam hal ini EHP.

 

Selanjutnya, manajemen kualitas air harus dilakukan dengan baik termasuk mengaplikasikan probiotik secara bertahap demi menekan bakteri Vibrio. Terakhir, pastikan biosekuriti tambak terjaga dengan baik, seperti penggunaan alat dan air yang steril, terbebas dari spora EHP.

 

Dengan memahami bahwa WFD adalah hasil Kerjasama antara bakteri dan parasit, kita bisa lebih bijak dalam menentukan langkah pencegahan demi keberhasilan budidaya.



Baca Juga

 

Komentar


bottom of page