Teknik Pergantian Air Tambak yang Aman untuk Menghindari Haloklin
- Redaktur: Audri Rianto
- 11 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Dalam budidaya udang, kualitas air tambak adalah segala-galanya. Tanpa kualitas air yang baik, udang tidak bisa hidup sehat dan menguntungkan.
Air yang sehat harus memiliki nilai yang ideal dan stabil di setiap parameternya. Jika suatu saat terjadi penurunan kadar, maka air harus cepat-cepat diremajakan atau diganti.

Sumber: vietfishmagazine.com
Air baru yang dimasukkan akan menggantikan air lama yang sudah buruk kualitasnya, sehingga tambak jadi asri kembali dan udang bisa produktif lagi. Namun, untuk mengganti air tambak sebaiknya dilakukan dengan tepat, karena jika salah sedikit saja, tambak bisa mengalami haloklin atau ketidakseimbangan kadar salinitas.
Kadar salinitas sangat dibutuhkan udang untuk menjaga keseimbangan cairan tubuhnya. Jangan sampai terjadi perbedaan yang terlalu besar antara salinitas air tambak dan tubuh udang, karena itu bisa membuatnya stres dan mati.
Kapan Air Tambak Diganti?
Air tambak sebenarnya tidak punya jadwal pergantian tetap, namun air dirasa perlu diganti ketika menunjukkan tanda-tanda penurunan kualitas. Beberapa tandanya, yaitu:
Air mulai berubah warna menjadi lebih pekat, bisa kecoklatan hingga hitam pekat.
Bau air sudah mulai menyengat, entah itu bau busuk atau bau tidak sedap lainnya. Itu tandanya ada gas beracun yang semakin tinggi kadarnya di dalam air, sehingga butuh diganti segera.
Jika diukur kadar oksigennya, terlihat sangat rendah sekali. Itu juga biasanya diikuti dengan fluktuasi pH yang terlalu ekstrem.
Tanda terakhir ialah air tambak mulai banyak menghasilkan busa atau buih dan bisa juga terlihat berlendir, maka harus cepat diganti dengan air yang baru.
Teknik Pergantian Air yang Aman
Mengganti air tambak tidak boleh asal-asalan, karena bisa berisiko terkena haloklin. Cara efektif yang dianjurkan untuk petambak adalah:
1. Lakukan Pergantian Air Secara Bertahap
Jangan ganti air tambak dalam jumlah besar sekaligus, harus dilakukan dengan bertahap pelan-pelan. Pertama, buang dulu air tambak lama sebanyak 10 persen, baru dilanjutkan dengan memasukkan air baru dengan jumlah yang sama.
Ulangi langkah ini di hari berikutnya sampai air sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya. Pergantian dengan cara bertahap atau dicicil ini dilakukan untuk membantu udang beradaptasi dengan air baru, sehingga ia tidak stres.
2. Samakan Salinitas Air Baru
Air baru yang akan dimasukkan ke tambak harus memiliki kadar salinitas yang sama, supaya saat dimasukkan ke tambak udang tidak kaget dan stres.
Untuk memastikan hal itu terwujud dengan baik, petambak wajib punya kolam penampung atau tandon air, gunanya untuk menampung air baru sementara sampai kondisi air benar-benar stabil untuk dimasukkan ke tambak
3. Optimalkan Kincir Air dan Aerasi
Saat air dimasukkan, kincir harus terus hidup supaya air baru langsung tercampung dengan air lama yang ada di tambak. Hal ini baik untuk mencegah terbentuknya lapisan salinitas atau haloklin dalam tambak.
4. Hindari Pergantian Air Saat Hujan Deras
Penting untuk diketahui petambak, kalau ingin mengganti air jangan lakukan saat hujan. Air hujan bisa membuat salinitas menurun, karena air hujan dapat mengencerkan kadar garam.
Saat akan mengganti air namun datang hujan, sebaiknya tunda saja dan dilanjutkan saat hujan sudah redah atau saat cuaca sudah stabil.
Baca Juga




Komentar