top of page

Mengenal Haloklin pada Tambak Udang dan Cara Mengatasinya

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 2 hari yang lalu
  • 2 menit membaca

Dalam budidaya udang, terkadang ada istilah-istilah yang masih jarang diketahui petambak. Seperti haloklin, termasuk istilah yang cukup asing di telinga. Padahal, haloklin ini sebuah fenomena yang cukup sering terjadi di tambak.

 

Haloklin sendiri dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan udang, bisa membuatnya stres, siklus moltingnya terganggu, hingga berujung pada kematian. Jadi, apa sebenarnya haloklin ini?


Sumber: kotiva.com

 

Haloklin bisa diartikan sebagai suatu kondisi di mana tambak mengalami perbedaan salinitas di area permukaan dan dasarnya.


Biasanya, air permukaan akan memiliki salinitas yang lebih rendah dibandingkan dengan air yang ada di dasar. Bagaimana tambak bisa mengalami hal semacam itu?

 

Penyebab Haloklin pada Tambak Udang

Sebenarnya, banyak faktor yang membuat haloklin bisa terjadi, namun yang paling sering menjadi pemicu adalah curah hujan yang deras dan dalam waktu lama.

 

Air hujan yang masuk ke dalam tambak akan bertahan di permukaan karena sifatnya tawar. Mengapa bisa begitu? Air tawar punya massa jenis yang lebih ringan dibanding air bersalinitas, jadi ia tidak bisa tercampur. Akibatnya, air seolah membentuk lapisan yang berbeda antara permukaan dan bawah.

 

Dampak Haloklin terhadap Budidaya Udang

Haloklin membuat salinitas tambak tidak stabil, dampak yang akan dirasakan udang secara langsung adalah metabolismenya yang menurun. Udang akan fokus melakukan osmoregulasi untuk menyeimbangkan cairan tubuhnya.

 

Energi yang ada hanya akan difokuskan ke sana, lama-lama udang bisa stres akut. Jika itu terjadi, maka udang akan mengalami penuruna imunitas, membuatnya lemah dan gampang terserang penyakit.

 

Cara Mengatasi Haloklin pada Tambak Udang

Jika haloklin yang terjadi dikarenakan air hujan yang masuk ke dalam tambak, maka langkah awal untuk mengatasinya ialah membuang air permukaan yang tawar. Buang air hingga kedalaman ideal, sembari melakukan pengecekan salinitas.

 

Air dibuang pelan-pelan sampai nilai salinitas kembali ideal. Untuk mempercepat proses stabilisasi salinitas, aerasi bisa ditingkatkan gunanya untuk mengaduk air permukaan dengan air dalam tambak, supaya salinitas menjadi homogen.

 

Jangan lupa juga untuk mengurangi pemberian pakan, karena saat salinitas tidak stabil udang butuh energi lebih untuk osmoregulasi.


Saat udang makan terlalu banyak, maka limbah yang dihasilkan juga akan banyak. Limbah ini nantinya dapat mempengaruhi kadar salinitas dalam air.

 

Langkah terakhir dan yang paling utama adalah pantau terus kadar salinitas selama proses budidaya berlangsung.


Memantau secara rutin memberikan gambaran pasti mengenai fluktuasi yang terjadi. Dengan begitu, petambak bisa lebih siap manakala kasus seperti haloklin terjadi.

 

Kesimpulan

Bisa dibilang bahwa haloklin ini permasalahan yang cukup serius di dalam budidaya udang, karena dampaknya bisa membuat udang tidak produktif.


Kondisi ini seringkali disebabkan oleh hujan deras, artinya dalam satu tahun petambak akan mengalami ini setidaknya sekali dalam setahun.

 

Untuk mengatasinya, petambak cukup membuang air hujan yang tertinggal di permukaan tambak, meningkatkan aerasi, mengurangi pakan dan melakukan monitoring rutin.



Baca Juga

Komentar


bottom of page