Fokus pada Manajemen Dasar Tambak dan Pemenuhan Mineral Ampuh Mengatasi WMS
- Redaktur: Audri Rianto
- 2 hari yang lalu
- 2 menit membaca
Dalam dunia budidaya udang, semua penyakit yang menginfeksi baik itu disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur diawali dari manajemen lingkungan yang buruk. White Muscle Syndrome (WMS) menjadi salah satu contohnya.

Sumber: globalseafood.org
Bakteri Photobacterium damselae (PDD) adalah patogen di balik penyakit WMS, kemunculannya dipicu oleh manajemen dasar tambak yang buruk.
Kotoran dan sisa bahan organik yang menumpuk di dasar tambak menjadi rumah bagi bakteri PDD. Lingkungan yang tidak terawat membuat bakteri PDD tumbuh subur hingga akhirnya menginfeksi udang yang sistem imunnya menurun akibat stres lingkungan.
WMS menyerang otot udang, membuatnya kaku hingga mengganggu aktivitasnya. Penyakit ini ditandai dengan berubahnya warna otot udang, dari yang awalnya bening menjadi putih keruh.
Penyakit ini tentu dapat menimbulkan kerugian yang serius bagi petambak, karena bisa menurunkan kualitas panen. Untuk menghindari risiko tersebut, petambak harus fokus pada dua pilar utama, yaitu manajemen dasar tambak dan keseimbangan mineral.
1. Memperbaiki Kondisi Dasar Tambak
Jika diibaratkan, dasar tambak yang kotor itu seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Dasar tambak yang tidak terawat akan menjadi tempat bagi bakteri patogen seperti PDD muncul dan berkembang biak.
Memperbaiki lingkungan dasar tambak bisa dimulai dengan rutin membuang lumpur secara rutin. Lakukan siphon beberapa hari sekali, terutama setelah memasuki DoC 40 untuk menghilangkan zona anaerob.
Selanjutnya, aplikasikan probiotik seperti Bacillus subtilis atau Nitrosomonas untuk menekan populasi bakteri merugikan yang ada di dalam tambak.
2. Manajemen Mineral
WMS menimbulkan gangguan pada kontraksi dan relaksasi otot dan kondisi ini bisa semakin parah ketika udang kekurangan asupan mineral. Kedua mineral yang paling dibutuhkan udang adalah Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg). Memastikan asupan keduanya cukup akan membuat cangkang udang lebih kuat serta jaringan otot lebih sehat.
Untuk pemberiannya, mineral dapat dicampur langsung dengan pakan. Metode ini sangat efektif karena langsung diserap oleh sistem pencernaan.
3. Mengelola Zona Anaerob
Bakteri patogen seperti PDD bersifat oportunistik, artinya mereka mulai menyerang udang ketika imun sedang tidak stabil. PDD dapat tumbuh dan berkembang dengan sangat cepat di zona anaerob tambak. Mereka bisa memproduksi toksin damselysin yang merusak otot.
Untuk itu, pastikan tambak tidak memiliki zona anaerob dengan cara memaksimalkan kinerja kincir. Pengaturan kincir yang tepat akan menjaga kadar oksigen terlarut tetap tersedia serta dapat membantu mengarahkan limbah ke saluran pembuangan.
4. Strategi Sampling dan Deteksi Dini
WMS sebaiknya dicegah dari fase awal budidaya dengan cara melakukan sampling rutin pada DoC 30-70. Saat sampling dilakukan dan terlihat ada udang dengan otot yang pucat dan bertekstur keras, maka bisa dipastikan udang sudah mengalami infeksi.
Kesimpulan
Untuk mencegah White Muscle Syndrome (WMS) dengan tepat sasaran bukan hanya soal membasmi patogen penyebab, tapi juga menciptakan lingkungan budidaya yang sehat. Mulailah fokus menjaga kebersihan dasar tambak serta penuhi kebutuhan mineral udang, niscaya risiko terinfeksi akan minim terjadi.
Baca Juga




Komentar