top of page

Optimalisasi Teknologi UV dan Pre-Filter pada Tambak Udang

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 22 jam yang lalu
  • 2 menit membaca

Air menjadi komponen penting dalam usaha budidaya udang. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Hardi Pitoyo, Anggota Dewan Pakar Shrimp Club Indonesia (SCI), lebih dari 50% keberhasilan budidaya didapat dari kualitas air yang baik.


 

Sebelum memasuki kolam pemeliharaan, air harus melewati proses desinfeksi dan filtrasi untuk membasmi patogen yang ada. Selama ini, petambak mengandalkan kaporit untuk sterilisasi karena tingkat keefektifannya dinilai cukup tinggi.

 

Namun, seiring berjalannya waktu, kaporit mulai ditinggalkan petambak dan mulai beralih menggunakan sinar UV. Mengapa demikian? Sinar UV dinilai punya kemampuan menekan patogen yang sama seperti kaporit, namun tidak meninggalkan residu kimia.

 

Tantangan Penggunaan Bahan Kimia di Tambak

Kaporit atau klorin memang ampuh dalam membasmi patogen penyakit dalam tambak, namun sifatnya instan. Dampak jangka panjang yang ditimbulkan pada lingkungan tambak dinilai cukup membahayakan.

 

Residu klorin yang tertinggal bisa merusak keseimbangan plankton dan bakteri baik di dalam perairan.

 

Hardi Pitoyo yang juga pengusaha tambak mengatakan jika biaya yang dikeluarkan dalam penggunaan klorin dinilai cukup mahal, terutama untuk penggunaan harian. Untuk tambak ukuran 3000 m3 bisa memakan biaya sebesar Rp100 juta lebih.

 

Selain mahal, waktu penggunaannya juga dianggap terlalu lama, yaitu 36-48 jam untuk bisa bekerja dengan efektif.

 

Dua hal itu yang kemudian membuat banyak petambak mulai beralih menggunakan UV karena biayanya lebih murah dan waktu yang dibutuhkan juga lebih singkat.

 

Filtrasi Sebelum UV (Pre-Filter)

Agar sinar UV bekerja efektif, air pasok harus difilter terlebih dahulu, supaya sinar UV gampang menembus air. Kuncinya ada di tingkat kekeruhan air, semakin rendah kekeruhan, maka UV akan semakin efektif.


Beberapa tahap filtrasi yang disarankan meliputi:

  • Pasir Silika: Menyaring partikel padat dan sedimen.

  • Filter Karbon: Menghilangkan bau, warna, dan kekeruhan.

  • Iron Filter & Water Softener: Mengurangi kandungan logam besi dan kapur yang dapat menghambat penetrasi cahaya.

 

Menentukan Dosis UV Sesuai Target Patogen

Agar investasi UV tidak sia-sia, maka gunakanlah dosis UV yang tepat. Setiap jenis patogen punya dosis UV nya masing-masing agar bisa dibasmi dengan baik. Untuk bakteri Vibrio maupun virus White Spot (WSSV), dosisnya cenderung sama, yaitu minimal 30 mJ/cm2.

 

Keunggulan Teknologi UV vs Metode Konvensional

Ketika petambak memutuskan untuk beralih dari metode kaporit ke metode sinar UV, maka petambak akan merasakan 4 keuntungan, seperti:

 

Efisiensi Waktu

Untuk bekerja dengan baik, kaporit membutuhkan waktu setidaknya 36-48 jam, sedangkan UV bisa bekerja lebih singkat, bahkan real time.


Hemat Lahan 

Sterilisasi dengan sinar UV tidak memerlukan kolam tandon yang terlalu luas untuk proses pengendapan kimia yang lama.


Daya Tahan Tinggi 

Lampu UV lebih tahan lama, bisa digunakan tahunan secara kontinu terutama jika lampu UV yang digunakan memiliki kualitas yang baik.


Ramah Lingkungan 

Sinar UV tidak meninggalkan residu kimia pada lingkungan tambak, sehingga usaha budidaya bisa digunakan secara berkelanjutan.



Baca Juga

 

Komentar


bottom of page