Waktu yang Tepat Untuk Melakukan Pengapuran Tambak Udang
- Redaktur: Audri Rianto
- 17 Jan
- 2 menit membaca
Untuk berhasil dalam membudidayakan udang, petambak tidak bisa hanya berpatok pada pemberian pakan saja. Walaupun pakan merupakan komponen terbesar dalam menyumbang biaya produksi, bukan berarti udang bisa sehat hanya mengandalkan pakan saja.

Sumber: globalseafood.org
Ada faktor krusial yang harus dijaga untuk menciptakan tambak yang produktif, dan faktor yang dimaksud adalah kualitas air. Tambak dengan air yang baik akan menjaga udang tetap sehat sehingga tidak mudah mati.
Salah satu metode dalam menjaga kualitas air adalah pengapuran. Pemberian kapur pada tambak dapat memberikan efek positif terhadap stabilitas pH. Kapan waktu yang tepat serta seberapa sering pengapuran harus dilakukan? Berikut ini ulasannya.
Mengapa Pengapuran pada Tambak Penting?
Menciptakan tambak yang produktif harus dimulai dengan memastikan kestabilan pH air. Tambak udang seringnya mengalami penurunan pH, bisa disebabkan oleh hujan atau respirasi plankton. Agar penurunan pH ini tidak terlalu ekstrem, tambak butuh alkalinitas yang optimal, yaitu 100-150 ppm.
Untuk mendapatkan alkalinitas di angka tersebut, tambak butuh asupan ion karbonat dan bikarbonat yang bisa didapatkan dari proses pengapuran. Alkalinitas yang optimal akan menjaga pH air tetap stabil, meskipun diterpa hujan dan respirasi plankton sekaligus.
Selain dapat mempertahankan pH dan alkalinitas, pengapuran juga akan memastikan kadar kalsium dan magnesium di tambak tetap tersedia. Kedua mineral ini sangat dibutuhkan udang untuk tumbuh, terutama pada proses pembentukan cangkang baru ketika masuk fase molting.
Waktu yang Tepat untuk Melakukan Pengapuran
Pengapuran pada tambak dibagi menjadi dua fase utama, yaitu ketika persiapan lahan dan ketika proses pemeliharaan atau biasa disebut pengapuran susulan.
1. Fase Persiapan Lahan (Pre-Intervention)
Pengapuran pada fase ini dilakukan ketika tambak hendak digunakan kembali. Pada kondisi tersebut, tambak biasanya sudah dikeringkan, nah tanah tambak yang kering ini harus dilakukan pengapuran agar pH nya kembali netral serta membasmi patogen yang bisa saja berasal dari siklus budidaya sebelumnya. Kapur yang biasa digunakan adalah kapur dolomit untuk menetralkan pH dan kapur tohor untuk membasmi patogen.
2. Fase Pemeliharaan (Masa Budidaya)
Pengapuran susulan dilakukan setelah benur ditebar atau sudah masuk pada fase pemeliharaan. Pengapuran harus dilakukan ketika pH menunjukkan penurunan yang terlalu ekstrem (lebih dari 1). Untuk melihat apakah pH menurun secara tidak wajar, bisa dicek di waktu pagi hari ataupun setelah hujan deras.
Mengapa di dua waktu tersebut? Waktu pagi, tambak telah mengalami proses respirasi oleh udang dan plankton semalaman, membuat kadar CO2 tambak meningkat yang mana dapat menurunkan pH. Jika penurunan pH terlalu jauh, maka wajib dilakukan pengapuran untuk kembali menetralkannya.
Begitu juga di waktu setelah hujan, pH akan mengalami penurunan karena air hujan sendiri memang bersifat asam. Saat hujan reda, petambak wajib mengecek kadar pH untuk memastikan tidak terjadi penurunan ekstrem. Ketika ada indikasi penurunan yang tak wajar, maka sebaiknya dilakukan pengapuran.
Baca Juga




Komentar