top of page

Udang Windu Kalah Saing dengan Udang Vaname. Ini Alasannya!

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 1 jam yang lalu
  • 2 menit membaca

Dulu, industri udang didominasi oleh udang windu, hampir semua petambak di Indonesia pasti membudidayakan udang windu. Tidak hanya itu, udang windu juga termasuk primadona ekspor pada masanya.

 

Sayangnya, kepopulerannya saat ini sudah habis. Udang windu kini sangat jarang dibudidayakan, karena petambak sekarang lebih memilih membudidayakan udang vaname.


 

Konon katanya, fenomena kalah saing udang windu ini lantaran industri modern butuh efisiensi yang tinggi, dan hal itu ada di udang vaname. Udang vaname dinilai punya kelebihan biologis dan kepastian bisnis yang lebih stabil dibandingkan dengan udang vaname. Untuk lebih jelas, simak penjelasannya berikut ini.

 

Alasan Udang Vaname Lebih Unggul dari Udang Windu


1. Siklus Budidaya yang Lebih Cepat

Faktor krusial mengapa banyak petambak berpaling dari udang windu ke udang vaname karena udang vaname punya siklus budidaya yang lebih singkat. Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap efisiensi waktu produksi.

 

Udang vaname hanya butuh waktu 90 sampai 120 hari saja untuk bisa dijual, sementara udang windu butuh waktu yang lebih lama, tepatnya 150 hari.

 

Selain waktu panen yang lebih lambat, masa budidaya yang lebih panjang ini juga membutuhkan biaya operasional yang lebih banyak. Dari sinilah petambak dengan sepenuh hati beralih ke udang vaname.

 

2. Kepadatan Tebar Tinggi (Sistem Intensif)

Secara alami, udang vaname lebih bisa hidup berdampingan dalam jumlah yang besar, sehingga bisa dibudidayakan secara intensif dengan padat tebar tinggi. Meskipun ada risiko kanibalisme, namun tingkat kanibalisme yang terjadi sangat minim bila dibandingkan dengan udang windu.

 

Hal ini tidak bisa dilakukan pada udang windu, karena udang windu punya sifat teritorial yang kuat, jika ditebar dalam jumlah besar, maka kemungkinan untuk saling serang dan saling makan akan sangat besar.

 

Sifat seperti ini tentu akan mempengaruhi hasil panen akhir, jika udang banyak yang saling serang maka jumlah yang bisa dipanen akan semakin sedikit.

 

3. Ketahanan Terhadap Penyakit yang Lebih Baik

Selanjutnya, dari segi kesehatan, udang windu juga lebih kalah dibandingkan dengan udang vaname. Serangan penyakit ini juga yang menjadi titik balik kehancuran udang vaname. Pada era 1990-an, pernah terjadi wabah White Spot Syndrome Virus (WSSV), membuat banyak udang windu mengalami gagal panen.

 

Semua petambak galau, karena udangnya pada mati terkena penyakit itu. Namun, tak berselang lama hadirlah udang vaname dengan genetik Specific Pathogen Free (SPF) dengan kekebalan tubuh yang jauh lebih baik dan daya adaptasi salinitas yang lebih fleksibel. Petambak mulai beralih ke udang vaname, karena risiko gagal panennya lebih kecil.

 

4. Permintaan Pasar Global yang Stabil

Peralihan dari udang windu ke udang vaname tidak hanya dilakukan petambak di Indonesia, tapi hampir di seluruh dunia. Inilah yang kemudian membuat udang vaname punya permintaan global yang lebih pasti.

 

Apakah Udang Windu Masih Memiliki Peluang?

Meskipun kepopulerannya tidak secerah masa lalu, namun udang windu tetap tidak kehilangan taji. Permintaan udang windu masih tetap ada, namun segmen pasarnya sudah mengalami pergeseran.

 

Saat ini, udang windu sudah dikategorikan sebagai udang premium, karena keunggulan alaminya yang tidak dimiliki udang vaname, seperti ukurannya lebih besar, rasa dagingnya lebih manis dan gurih, serta dagingnya lebih padat dari udang vaname sehingga lebih cocok disajikan di restoran bintang lima.



Baca Juga

 

bottom of page