top of page

Strategi Biosekuriti untuk Mencegah Kematian Dini pada Budidaya Udang

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 5 jam yang lalu
  • 2 menit membaca

Kematian dini pada udang menjadi momok menakutkan untuk petambak, karena hal tersebut sangat berhubungan dengan tingkat kerugian. Kematian dini sebenarnya bisa dicegah apabila petambak menerapkan biosekuriti yang ketat.


 

Sejatinya, biosekuriti dalam budidaya udang adalah fondasi utama untuk mencegah penyakit masuk ke dalam tambak. Kematian dini pada udang sendiri sering dikarena oleh infeksi penyakit AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease).

 

Dengan mencegah perkembangan penyakit tersebut, maka kesempatan udang untuk hidup lebih lama sampai panen akan semakin besar.

 

1. Sterilisasi Air dan Sumber Daya (Water Treatment)

Komponen utama dalam tambak ada di airnya, karena di situlah udang akan hidup. Sayangnya, air juga menjadi media utama dalam proses penyebaran patogen. Untuk itu, sebelum memutuskan untuk memasukkan air ke dalam tambak ada baiknya lakukan sterilisasi terlebih dahulu.

 

Lakukan pengendapan dan penyaringan air di dalam tandon. Pengendapan bertujuan untuk menumpuk kotoran yang ada di air ke dasar kolam, sementara penyaringan ialah untuk mencegah masuknya hewan liar yang bisa menjadi vektor penyakit.

 

Selanjutnya lakukan desinfeksi total, bisa dengan kaporit atau bahan desinfektan lainnya. Lakukan dengan dosis yang direkomendasi supaya bakteri, virus maupun mikroorganisme lainnya yang hidup di air tersebut mati.

 

Aplikasikan probiotik setelah proses desinfeksi selesai dan netral, gunanya untuk menumbuhkan plankton dalam air.

 

2. Gunakan Benur Berkualitas

Benur yang akan digunakan sangat berperan penting dalam tingkat kelangsungan hidupnya. Memakai benur dengan sertifikasi SPF/SPR menjadi sebuah keharusan untuk petambak, karena benur ini sudah teruji secara klinis bebas dari infeksi penyakit dan minim mengalami kematian dini.

 

Sebelum ditebarkan, benur harus diaklimatisasi dengan benar untuk membuatnya beradaptasi dengan suhu air, tingkat salinitas dan pH air tambak. Jangan terburu-buru, supaya benur benar-benar menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya demi meminimalisir stres.

 

3. Isolasi dan Pengendalian Vektor

Penyakit yang menginfeksi udang bisa saja datang dari luar lingkungan tambak melalui vektor yang masuk secara tiba-tiba.

 

Maka dari itu, tambak harus benar-benar diisolasi, mulai dari pemasangan pagar kepiting di sekeliling tambak, memasang tali penghalang burung di permukaan kolam, dan pastikan bahwa setiap kolam harus punya peralatannya sendiri, jangan gunakan secara bergantian antara kolam satu dan lainnya.

 

4. Manajemen Lingkungan & Bahan Organik Kolam

Akumulasi bahan organik dan kotoran di dasar tambak juga bisa membuat udang keracunan dan mati. Bahan organik yang terlalu banyak menumpuk bisa meningkatkan populasi bakteri vibrio, meningkatkan amonia dan membuat pH berfluktuasi ekstrem.

 

Untuk itu, pemberian pakan harus terus dipantau dengan anco untuk menentukan dosis pakan ideal. Jangan sampai memberi pakan terlalu banyak, melebihi kebutuhan udang karena rawan terbuang dan menumpuk di dasar tambak.

 

Lakukan pembuangan lumpur tambak dengan cara melakukan siphon rutin, terutama di awal fase budidaya supaya udang muda tidak mengalami kematian terlalu cepat.

 

5. Batasi Akses Tambak

Tambak bukanlah tempat umum yang bisa dikunjungi siapa saja. Untuk itu, batasi tamu atau pengunjung dari luar. Jika dianggap tidak berkepentingan dilarang masuk, karena manusia termasuk salah satu media pembawa patogen paling efisien. Semakin banyak orang masuk, maka semakin tinggi risiko masuknya patogen ke lingkungan tambak.



Baca Juga

Komentar


bottom of page