top of page

Cara Menekan Angka Kematian Udang Sejak Awal Siklus Budidaya

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 2 hari yang lalu
  • 2 menit membaca

Kematian dini dalam budidaya udang selalu menjadi mimpi buruk bagi petambak. Selain dapat menurunkan jumlah populasi udang secara drastis, kondisi ini juga berdampak pada pertumbuhannya yang tidak seragam hingga penurunan hasil panen yang signifikan.


Sumber: kumparan.com

 

Agar kelangsungan hidup udang tetap tinggi dari awal budidaya, upaya pencegahan sebaiknya dilakukan dari sebelum benur ditebar ke dalam tambak. Berikut ini 7 langkah strategis untuk menekan angka kematian udang dari awal fase budidaya.

 

1. Persiapan Tambak yang Matang

Persiapan tambak sebelum aktivitas budidaya dilakukan merupakan kunci untuk meminimalkan potensi timbulnya penyakit. Ada tiga langkah utama dalam melakukan persiapan tambak di awal siklus budidaya.

 

Pertama, melakukan pengeringan dasar tambak untuk memutus rantai kehidupan patogen yang tersisa di dalam tanah. Kedua, lakukan pengapuran dengan dosis yang tepat dan terukur guna menstabilkan pH tanah, dan yang ketiga adalah melakukan filtrasi atau penyaringan air pada saat proses mengisi air ke dalam tambak. Penyaringan air bertujuan untuk mencegah masukkan patogen ataupun hama ke dalam tambak.

 

2. Pemilihan Benur Berkualitas dan Bebas Penyakit

Setelah tambak dipersiapkan dengan baik, langkah selanjutnya adalah membeli benur berkualitas dengan sertifikasi jelas.

 

Pilih hatchery yang punya reputasi baik di kalangan petambak dan pastikan sudah mengantongi sertifikasi bebas penyakit. Selanjutnya, periksa kualitas fisik benur, jangan sampai organnya ada yang tidak lengkap, ukurannya juga harus seragam.

 

3. Aklimatisasi Benur Sebelum Penebaran

Hindari hal-hal yang membuat udang stres, contohnya adalah perubahan kondisi lingkungan mendadak.

 

Pada tahap awal penebaran sebaiknya benur dilakukan aklimatisasi agar benur terbiasa dengan lingkungan barunya.

 

Aklimatisasi bisa dilakukan dengan mengapungkan kantong berisi benur di permukaan udang selama 15-30 menit dilanjutkan dengan memasukkan air tambak bertahap ke dalam kantong tersebut sebelum akhirnya benur dilepaskan ke dalam tambak.

 

4. Pemantauan Kualitas Air Secara Rutin

Setelah benur ditebar, petambak sebaiknya memantau kualitas air secara rutin. Jangan sampai parameter air berfluktuasi secara ekstrem karena itu bisa memicu stres pada udang muda.

 

5. Penerapan Biosekuriti dan Penggunaan Probiotik

Penerapan biosekuriti ketat sangat dianjurkan, supaya patogen tidak mudah masuk dan menyebar selama proses pembesaran udang. Biosekuriti yang dimaksud meliputi desinfeksi peralatan tambak secara rutin, memasang jaring di saluran air untuk mencegah vektor penyakit masuk dari sana.

 

Selain itu, memberikan probiotik ke dalam tambak dengan rutin juga baik dilakukan. Probiotik akan membantu menjaga kualitas air dan kebersihan dasar tambak supaya bakteri vibrio tidak meledak populasinya.

 

6. Manajemen Pakan yang Efisien

Jangan melakukan overfeeding karena bisa membuat kualitas air memburuk. Beri pakan sesuai umur udang dan selalu gunakan anco untuk memantau tingkat konsumsi pakan hariannya. Anco juga akan membantu petambak untuk menentukan dosis pakan harian dengan lebih baik.

 

7. Monitoring Harian dan Deteksi Dini

Pantau terus kondisi udang setiap hari, tujuannya adalah untuk deteksi dini. Lihatlah nafsu makan udang, apakah mengalami penurunan atau tetap.

 

Pola berenang udang juga bisa menjadi acuan, selanjutnya kondisi fisik apakah tubuhnya ada bintik atau mengalami perubahan warna pada organ-organnya dan terakhir apakah ada udang yang mati atau tidak. Jika ada yang mati, catat berapa jumlahnya setiap hari, apakah bertambah atau berkurang.



Baca Juga

Komentar


bottom of page