top of page

Pengaruh Padat Tebar Terhadap Carrying Capacity Tambak Udang

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 2 hari yang lalu
  • 2 menit membaca

Keberhasilan budidaya udang bisa digapai dengan mempertahankan daya dukung lingkungan tambak. Daya dukung lingkungan yang terus ideal sepanjang siklus memungkinkan tambak tetap produktif hingga waktu panen tiba.


 

Besar kecilnya padat tebar menjadi faktor penentu bagaimana daya dukung (carrying capacity) lingkungan tambak bisa bertahan. Pemahaman mengenai padat tebar ideal menjadi suatu keharusan bagi petambak, guna mencegah terjadinya penurunan daya dukung lingkungan secara ekstrem.

 

Pengaruh Padat Tebar Tinggi terhadap Carrying Capacity

Menebar benur dengan jumlah berlebihan tanpa memperhitungkan kapasitas kolam dapat memicu banyak masalah lingkungan, contohnya seperti:


1. Penurunan Kualitas Air secara Drastis

Over populasi dalam kolam tambak memungkinkan terjadinya peningkatan akumulasi limbah organik. Beberapa pemicunya, seperti pakan yang tidak termakan dan kotoran yang dihasilkan udang dalam jumlah lebih banyak membuat kolam kehilangan kemampuan mendekomposisi bahan organik dengan optimal.

 

Efeknya, sedimen yang terbentuk masuk ke dalam fase anerob dan menghasilkan senyawa beracun seperti amonia dan nitrit. Adanya senyawa ini dalam tambak menandakan bahwa kualitas air sudah mengalami penurunan yang sangat jauh.

 

2. Defisit Oksigen Terlarut

Semakin padat populasi udang dalam satu kolam, maka laju konsumsi oksigennya juga akan semakin tinggi. Ini membuat pasokan oksigen dalam air cepat habis, apalagi di malam hari ketika fitoplankton juga melakukan respirasi.

 

Meningkatnya konsumsi oksigen membuat beban kerja sistem aerasi tambak meningkat. Jika tidak dikondisikan dengan baik, udang berisiko mengalami hipoksia dan mati perlahan karena kekurangan oksigen.

 

3. Hambatan Pertumbuhan Individu Udang

Padat tebar yang melampaui carrying capacity meningkatkan kompetisi antar udang dalam memperebutkan pakan dan ruang gerak. Sayangnya, kondisi ini berbanding terbalik dengan laju pertumbuhan. Semakin tinggi kompetisi maka semakin terhambat laju pertumbuhannya karena udang tidak mendapat cukup pakan untuk menunjang proses metabolisme tubuh mereka.

 

4. Tingginya Stres dan Risiko Penyakit

Ruang gerak terhambat, pakan tidak tercukupi dengan baik serta berisiko mengalami hipoksia membuat udang mudah mengalami stres. Semakin kronis tingkat stres udang, maka semakin menurun sistem kekebalan tubuhnya.

 

Kondisi ini akan dimanfaatkan oleh bakteri patogen untuk menginfeksi dan menyebarkan penyakit dengan mudah. Jika sudah begitu, risiko kematian massal akan sulit untuk dihindari.

 

Cara Menjaga Keseimbangan Padat Tebar Tambak Udang

Untuk mencegah menurunnya carrying capacity tambak dan kemungkinan-kemungkinan terburuk lainnya, ada baiknya petambak melakukan pengoptimalan padat tebar dengan kondisi kolam.

 

Pertama, petambak bisa menyesuaikannya dengan sistem aerasi yang ada. Sebaiknya, jumlah benur per meter persegi diselaraskan dengan jumlah dan kapasitas kincir.

 

Selanjutnya, terapkan standar padat tebar ideal. Untuk padat tebar ideal secara umum adalah 80-120 ekor/m² bisa lebih tergantung dengan sistem budidaya yang dianut. Setelah menentukan padat tebar, jangan lupa untuk mengimbanginya dengan kontrol kualitas air secara rutin dan aerasi yang memadai.

 

Terakhir, pantau terus kondisi kolam secara berkala. Rutin mengecek parameter kualitas air dan tak lupa untuk melakukan penyiponan secara berkala agar limbah organik di dasar tambak tidak menumpuk terlalu banyak.



Baca Juga

Komentar


bottom of page