top of page

Beberapa Penyakit Udang yang Bisa Dideteksi dengan PCR

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 16 menit yang lalu
  • 2 menit membaca

Budidaya udang modern saat ini sudah sangat dimudahkan dengan teknologi. Bukan hanya dari sektor teknis budidayanya saja, cara deteksi penyakitnya juga sudah sangat canggih.

 

Teknologi Polymerase Chain Reaction (PCR) termasuk salah satu metode yang saat ini kerap digunakan petambak untuk mendeteksi dini infeksi penyakit udang sebelum menyebabkan kerugian serius.

 

Teknologi ini punya tingkat keakuratan yang tinggi, begitu hasilnya positif maka bisa dipastikan udang memang sudah mengalami infeksi, meskipun belum menunjukkan gejala.

 

Keakuratan metode PCR ini bisa sangat tinggi, karena teknologi PCR langsung mendeteksi DNA dari patogen secara spesifik yang ada di dalam sel udang.


Jadi, meskipun udang belum terlihat sakit, namun ada sedikit saja DNA patogen yang berhasil masuk ke tubuh udang, maka akan langsung terdeteksi.


 

Lantas, apa saja penyakit udang yang bisa dideteksi oleh teknologi PCR ini? Berikut ini daftarnya.


WSSV (White Spot Syndrome Virus)

Virus ini merupakan penyebab utama dari penyakit bintik putih pada udang. Penyakit ini termasuk penyakit yang mematikan, karena populasi udang bisa musnah dalam waktu 3 sampai 10 hari saja setelah terpapar virus ini.

 

IMNV (Infectious Myonecrosis Virus)

Selanjutnya, ada virus IMNV (Infectious Myonecrosis Virus) yang menyebabkan penyakit Myo. Penyakit ini membuat otot udang mengalami nekrosis atau mematikan jaringan secara permanen. Daging udang yang terkena penyakit ini akan terlihat putih pucat hingga kemerahan seperti udang rebus.

 

TSV (Taura Syndrome Virus)

Virus ini akan menyerang jaringan epidermis dan organ limfoid udang, membuat warna tubuh udang menjadi kemerahan terutama pada bagian ekornya.

 

IHHNV (Infectious Hypodermal and Haematopoietic Necrosis Virus)

Virus ini membuat udang tumbuh tidak normal, terlihat kerdil dan tidak seragam. Gejala khas lainnya adalah kelainan pada bentuk moncongnya.

 

AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease) 

Penyakit ini sering disebut dengan Early Mortality Syndrome (EMS) yang disebabkan oleh bakteri Vibrio parahaemolyticus. Bakteri ini mengeluarkan racun yang mematikan, membuat organ hepatopankreas rusak hingga membuat kekosongan pada saluran pencernaan.

 

EHP (Enterocytozoon hepatopenaei)

EHP merupakan penyakit yang disebabkan parasit, tepatnya dari jenis jamur. Parasit ini nantinya akan menginfeksi sel-sel hepatopankreas udang, mengganggu penyerapan nutrisi sehingga udang rawan mati mendadak.

 

Mengapa Deteksi PCR Begitu Penting?

Untuk sekarang mendeteksi penyakit tidak bisa hanya mengandalkan gejala fisik, karena infeksi awal yang terjadi diam-diam bisa menyebabkan udang mati mendadak.


Adanya teknologi PCR membantu petambak untuk menentukan tindakan, supaya kerugian bisa dihindari lebih cepat.

 

Ada dua opsi PCR yang bisa petambak pilih, yaitu PCR konvensional dan Real-Time PCR (qPCR).

 

Untuk PCR konvensional, biayanya lebih murah, hasil yang ditampilkan akurat, namun bersifat kualitatif berupa positif atau negatif. Hanya saja proses pemaparan hasilnya lebih lama, karena harus melewati proses elektroforesis terlebih dahulu.

 

Sedangkan untuk Real-Time PCR (qPCR), pembacaan hasil lebih cepat karena tidak perlu melewati proses elektroforesis. Hasil yang ditampilkan juga bersifat kuantitatif yang bisa menunjukkan tingkat keparahan infeksi. Namun, biayanya lebih mahal dari PCR konvensional.



Baca Juga

bottom of page