Keunggulan Uji PCR untuk Monitoring Kesehatan Udang di Tambak
- Redaktur: Audri Rianto
- 2 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Infeksi penyakit bisa membuat petambak gagal panen dan merugi. Strategi paling tepat agar tidak merugi ialah dengan mencegah penyakit menginfeksi udang.
Selain dengan menjaga kualitas air tetap baik, cara lain yang dianggap mujarab untuk mencegah infeksi penyakit ialah dengan melakukan pengujian PCR terhadap jaringan udang.

Sumber: tradewheel.com
Uji PCR akan mendeteksi keberadaan DNA patogen di dalam sel udang, bahkan sebelum patogen itu menginfeksi dan menimbulkan gejala. Teknologi semacam ini bukanlah sekadar pilihan, tapi sudah termasuk ke dalam biosekuriti wajib untuk mencegah kerugian.
Ada beberapa keunggulan uji PCR untuk dapat dipahami oleh petambak, supaya tidak ragu lagi untuk melakukan uji PCR pada udang yang dibudidayakan.
1. Kemampuan Deteksi Dini yang Sangat Tinggi
Keunggulan utama dari uji PCR adalah dapat mendeteksi penyakit sejak dini, bahkan sebelum udang terlihat sakit. Infeksi virus atau bakteri pada udang tidak semuanya langsung menunjukkan gejala fisik, jadi cara paling mudah untuk mendeteksinya ialah dengan melakukan uji molekular.
Sampel diambil dari organ udang yang dianggap sering menjadi tempat menempelnya patogen. Selanjutnya akan dilakukan ekstraksi dan penggandaan DNA. Jika hasilnya terdapat DNA patogen, maka udang dianggap positif terinfeksi patogen.
Patogen ini bahkan bisa diidentifikasi saat benur belum ditebar ke dalam kolam tambak. Jadi, saat benur positif mengandung patogen, maka petambak bisa mengambil keputusan untuk tidak membudidayakannya lebih jauh.
2. Tingkat Akurasi dan Spesifisitas Optimal
Jika hanya mengandalkan identifikasi melalui gejala klinis, masih ada kemungkinan salah diagnosis. Berbeda dengan uji PCR, karena metode ini bekerja dengan menggandakan cetakan DNA patogen secara spesifik.
Dari cara kerjanya yang seperti itu, tentu tingkat akurasinya dalam membedakan jenis patogen yang menginfeksi seperti bakteri atau virus sangat tinggi, terutama yang punya gejala fisik serupa.
3. Hasil Kuantitatif dengan Real-Time PCR (qPCR)
PCR konvensional punya tingkat akurasi yang tinggi, namun hasil yang ditunjukkan bersifat kualitatif, artinya hanya bisa memberitahukan positif atau negatif dari keberadaan patogen. Beda lagi dengan Real-Time PCR (qPCR) yang memiliki teknologi lebih canggih.
Hasil yang ditunjukkan merupakan data kuantitatif yang dapat membantu petambak mengukur seberapa parah tingkat infeksi suatu patogen. Dari situ petambak juga bisa memprediksi bagaimana laju penyebarannya di ekosistem tambak.
4. Pencegahan Gagal Panen dan Kerugian Massal
Deteksi berkala dengan PCR membantu petambak mencegah wabah penyakit dengan cepat, sebelum terjadinya mati massal. Contoh penyakit yang bisa memusnahkan seluruh populasi udang di tambak adalah WSSV.
Sebelum penyakit ini menimbulkan gejala, PCR bisa mendeteksinya sehingga petambak bisa melakukan tindakan mitigasi seperti panen dini atau mengisolasi kolam yang terinfeksi, agar penyakit tidak menyebar lebih luas ke kolam lainnya.
5. Fleksibilitas Deteksi dengan Teknologi Portabel
Petambak pasti mengira untuk melakukan uji PCR hanya bisa dilakukan di laboratorium. Jawabannya adalah tidak, karena saat ini sudah adalah teknologi bernama PCR portabel.
Mengapa dikatakan portabel? Karena alat uji memiliki ukuran yang kecil sehingga mudah dibawa ke mana-mana. Memungkinkan petambak melakukan uji PCR langsung di kawasan budidaya.
Baca Juga




Komentar