top of page

3 Jenis Uji PCR Untuk Mendeteksi Penyakit Udang Vaname

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 1 hari yang lalu
  • 2 menit membaca

Budidaya udang sudah lama menjadi tulang punggung sektor perikanan Indonesia. Itulah mengapa intensitas budidaya udang di Indonesia sangat besar dan hampir tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia.

 

Intensitas budidaya yang tinggi ternyata memicu risiko serangan penyakit yang juga tinggi. Serangan penyakit ini bahkan bisa menjadi wabah yang dapat menurunkan produktivitas melalui kematian massal. Jika itu terjadi, maka petambak yang paling merasakan dampaknya.


 

Demi menghindari kerugian besar-besaran, infeksi penyakit bisa dicegah dengan mudah, apalagi saat ini teknologi sudah semakin canggih. Salah satu teknologi yang bisa diterapkan adalah melakukan uji PCR (Polymerase Chain Reaction).

 

Apa Itu PCR untuk Penyakit Udang?

Secara umum, metode PCR dalam budidaya udang bisa dikatakan sebagai metode pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi DNA atau RNA patogen yang ada di dalam sel udang. Teknologi membantu petambak untuk mendeteksi keberadaan patogen bahkan sebelum mereka menunjukkan gejala.

 

Dibandingkan dengan pemeriksaan secara fisik dan visual, PCR punya tingkat akurasi yang lebih tinggi, karena bisa mendeteksi patogen bahkan dalam jumlah yang sangat kecil.

 

Jenis-Jenis PCR untuk Mendeteksi Penyakit Udang

Fakta lain dari uji PCR adalah ternyata PCR terbagi menjadi beberapa jenis, mulai dari yang paling konvensional sampai yang paling modern.

 

1. PCR Konvensional

PCR konvensional termasuk jenis PCR yang cukup modern dengan biaya yang relatif lebih murah. Metode ini akan memberikan hasil berupa positif atau negatif terhadap keberadaan patogen di dalam sel udang, tidak spesifik mencantumkan jumlahnya.

 

Dibandingkan jenis PCR yang lain, metode PCR konvensional ini juga memakan waktu yang lebih lama, karena ada satu tahapan tambahan disebut elektroforesis yang harus dilakukan sebelum pembacaan hasil.

 

2. Real-Time PCR (qPCR)

Real-Time PCR atau qPCR merupakan versi lebih modern dari PCR konvensional, karena dapat mendeteksi dengan akurat keberadaan patogen sekaligus jumlah DNA nya pada sel udang.

 

Proses pembacaan hasil juga lebih cepat, karena tidak memerlukan tahapan elektroforesis sehingga proses amplifikasi DNA dapat terbaca secara langsung.

 

3. Insulated Isothermal PCR (iiPCR)

Jika PCR konvensional mengandalkan perubahan suhu berulang untuk mendeteksi DNA patogen, berbeda dengan Insulated Isothermal PCR (iiPCR). iiPCR bekerja hanya dengan mengandalkan satu suhu tetap atau disebut dengan isotermal.


Karena hanya mengandalkan suhu yang tetap, cara kerjanya juga menjadi lebih cepat. Hasilnya juga bisa langsung dilihat, apakah udang positif atau negatif mengandung patogen. Namun, untuk menunjukkan hasil positif, alat ini harus mendeteksi DNA patogen dalam jumlah tertentu, tepatnya lebih dari 10 salinan DNA.


Sayangnya, biaya untuk melakukan iiPCR ini lumayan tinggi, jadi demi mengefisienkan biaya produksi, petambak masih banyak yang memilih menggunakan PCR konvensional.

 

Kapan PCR Perlu Dilakukan?

Banyak petambak pasti memikirkan waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan PCR pada udangnya. Secara pasti, pemeriksaan PCR baiknya dilakukan sebelum udang itu terlihat sakit.

 

Beberapa waktu yang direkomendasikan adalah sebelum benur ditebar, saat monitoring kesehatan berkala, ketika nafsu makan udang turun, saat ada udang yang mati tidak normal dan yang terakhir saat tambak di sekitar mengalami wabah penyakit.



Baca Juga

bottom of page