top of page

6 Kesalahan Budidaya yang Memicu Kematian Dini Udang

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 1 jam yang lalu
  • 2 menit membaca

Kematian dini pada udang termasuk salah satu mimpi buruk para petambak. Biasanya, kondisi seperti ini terjadi di 30 hari pertama masa tebar benur. Petambak banyak yang meyakini bahwa kematian dini semata-mata disebabkan oleh infeksi penyakit.


 

Padahal, pemicu terbesarnya justru dari kesalahan manajemen dan teknis budidaya yang seringkali dilakukan petambak.


Demi menjaga produktivitas tambak, ada baiknya Anda menyimak 7 kesalahan yang kerap kali dilakukan oleh petambak dan tanpa sadar menjadi penyebab kematian dini pada udang.

 

1. Persiapan Lahan dan Tambak yang Kurang Maksimal

Persiapan tambak untuk memulai siklus budidaya baru harus dilakukan dengan maksimal. Jangan terburu-buru mengejar waktu tebar karena bisa memicu kerugian di kemudian hari.

 

Jangan sampai dasar tambak masih menyisakan lumpur hitam sisa siklus budidaya sebelumnya. Lumpur tersebut sering menjadi tempat patogen dan gas beracun bersarang. Untuk itu, lakukan pengeringan, pembalikan tanah, desinfeksi hingga pemberian kapur secara total untuk membasmi patogen yang tersisa dan menstabilkan pH.

 

2. Aklimatisasi Benur yang Tergesa-gesa

Sebelum proses penebaran benur, sebaiknya diaklimatisasi terlebih dahulu. Jangan masukkan benur secara tergesa-gesa tanpa melakukan penyesuaian suhu dan salinitas air kantong dengan air tambak demi menghindari stres.

 

Cara melakukan aklimatisasi yang baik ialah dengan mengapungkan kantong benur di permukaan tambak selama 15 sampai 30 menit, kemudian campurkan air tambak ke dalam kantong perlahan dan bertahap sampai benur benar-benar dilepaskan ke dalam tambak.

 

3. Padat Tebar Terlalu Tinggi Tanpa Dukungan Sarana

Jumlah benur yang ditebar usahakan tidak terlalu banyak sampai melebihi kapasitas kolam. Apalagi metode budidaya yang dilakukan bukan budidaya secara intensif, artinya sarana yang mendukung kehidupan udang dengan padat terbar tinggi tidak terpenuhi dengan baik.

 

Padat tebar yang terlalu tinggi dapat meningkatkan kompetisi ruang untuk mendapatkan pakan, oksigen dan gerak. Udang yang kalah bisa stres dan berakhir mati.

 

4. Kualitas Air Kolam Tidak Stabil

Udang termasuk hewan yang sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan, jangan sampai kualitas air kolam mendadak turun. Fluktuasi parameter air sangat besar kemungkinan membuat udang stres dan mati. Untuk itu rajinlah mengukur parameter air agar penurunan sekecil apapun bisa cepat dideteksi.

 

5. Pemberian Pakan Berlebihan (Overfeeding)

Kesalahan yang sering dilakukan petambak di awal siklus budidaya adalah memberikan pakan secara berlebihan dengan tujuan untuk mempercepat pertumbuhan udang. Memberi pakan melebihi kemampuan udang tentu akan memicu penumpukan sisa pakan di dasar tambak.

 

Tumpukan ini yang bisa membuat kadar amonia naik dan meracuni udang. Jangan sampai hal ini terjadi, caranya ialah dengan rutin memantau anco untuk menerapkan dosis pakan yang sesuai dengan kebutuhan udang.

 

6. Mengabaikan Biosecurity Tambak

Kematian dini pada udang bisa saja disebabkan oleh penyakit yang menginfeksi di awal proses budidaya. Penyakit ini tidak muncul begitu saja, seringnya masuk dari luar tambak. Kesalahan umum yang sering dilakukan adalah petambak terlalu abai dengan biosekuriti.

 

Membiarkan orang lain masuk ke area tambak tanpa sterilisasi, mengganti air tambak dengan air yang baru namun tidak disaring terlebih dahulu atau menggunakan peralatan secara bergantian dari kolam satu ke kolam lain.

 

Hal-hal semacam itu sebaiknya dihindari, supaya risiko masuknya patogen bisa ditekan secara maksimal.



Baca Juga

Komentar


bottom of page