top of page

Salinitas Tinggi Buat Tambak Kehilangan Oksigen

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 2 hari yang lalu
  • 2 menit membaca

Tambak udang butuh salinitas yang cukup untuk menunjang keberhasilan budidaya. Namun, saat kadarnya terlalu tinggi, itu yang jadi bahaya.


Lonjakan salinitas yang tak terkendali, seperti saat kemarau bukan hanya membuat udang mengalami gangguan molting, tapi bisa juga membuatnya hipoksia atau kekurangan oksigen.


 

Kok bisa begitu? Apakah salinitas berpengaruh terhadap keberadaan oksigen di air? Berikut ini jawaban lengkapnya.

 

Hubungan Antara Salinitas dan Oksigen Terlarut

Kalau dipikir-pikir, sepertinya kadar garam yang ada di air tambak tidak memiliki hubungan terhadap ketersediaan oksigen. Nyatanya, keduanya punya hubungan erat secara ilmiah.

 

Ion garam sangat suka terhadap molekul air, ia cenderung ingin terus terikat dengan air. Ketika ion garam meningkat jumlahnya (peningkatan salinitas) tarikan ion garam terhadap molekul air akan semakin kuat hingga tidak menyisakan ruang kosong untuk oksigen. Akibatnya kadar oksigen yang tersedia jadi sedikit, inilah yang disebut dengan fenomena salting out.

 

Mengapa Salinitas Tinggi Berbahaya bagi Budidaya?

Kondisi air tambak yang terlalu asin ditambah dengan minimnya kadar oksigen terlarut, membuat tekanan ganda bagi udang. Inilah yang selanjutnya terjadi:

 

1. Beban Osmoregulasi Meningkat

Saat salinitas lingkungan tambak tinggi, udang akan mengeluarkan cairan lebih banyak melalui proses osmosis, artinya ia bisa mengalami dehidrasi jika itu terjadi terus-menerus.

 

Biasanya, udang akan mencoba untuk menyeimbangkan cairan dalam tubuhnya, makanya energi yang didapat dari pakan akan ia fokuskan untuk melakukan hal itu. Efeknya udang jadi sulit besar (pertumbuhan stagnan).

 

2. Stratifikasi Air

Air dengan salinitas tinggi punya massa jenis yang lebih berat, membuatnya cenderung mengendap di dasar. Proses ini akan menciptakan lapisan air, di mana air asin akan berada di dasar sementara air dengan salinitas lebih rendah berada di atas.

 

Karena pelapisan ini, oksigen yang dihasilkan kincir akan sulit menembus sampai ke bawah. Ini tentu berbahaya, karena limbah organik yang ada di bawah butuh oksigen untuk dekomposisi. Tanpa oksigen, dekomposisi akan berlangsung secara anaerob dan meningkatkan toksisitas amonia.

 

Strategi Mitigasi bagi Petambak

Kondisi semacam ini sebaiknya dicegah dari awal, artinya petambak harus membuat strategi mitigasi yang tepat, berikut ini caranya:


1. Optimalisasi Kincir Air

Mengoptimalkan kincir air artinya pengoperasiannya diperpanjang, jangan hanya mengandalkan kincir pada siang hari. Terlebih di malam hari, ketika oksigen pada titik terendah. Pastikan jumlah kincir mencukupi untuk memecah lapisan air agar oksigen terdistribusi merata ke dasar tambak.


2. Pengenceran Bertahap

Untuk mengurangi atau menurunkan kadar salinitas, bisa dilakukan pengenceran dengan memasukkan air tawar secara bertahap. Lakukan sedikit demi sedikit, sampai salinitas benar-benar turun ke kadar optimal.



Baca Juga

 

Komentar


bottom of page