AHPND jadi Salah Satu Penyebab Udang Mengalami Kematian Dini
- Redaktur: Audri Rianto
- 2 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Dalam budidaya udang, fase awal budidaya bisa dibilang sebagai periode paling kritis. Udang muda masih dalam tahap beradaptasi dengan lingkungan, namun tetap harus tumbuh dan berkembang secara optimal.

Sumber: researchgate.net
Ancaman paling besar di masa awal budidaya adalah kematian dini, biasanya karena disebabkan oleh penyakit AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease) atau yang populer disebut dengan EMS (Early Mortality Syndrome).
Saking mengerikannya penyakit ini, sekali saja udang terinfeksi maka dapat memicu mortalitas hingga 100% dalam waktu beberapa hari saja. Penyakit ini biasa menyerang udang di awal tebar, yaitu 10 sampai 35 hari pasca tebar.
Etiologi dan Mekanisme Serangan
AHPND adalah penyakit akibat infeksi bakteri dan agen utama dari penyakit ini adalah bakteri Vibrio parahaemolyticus. Infeksi penyakit ini benar-benar merusak tubuh udang.
Awalnya, bakteri ini bisa masuk ke dalam tubuh udang melalui beberapa hal, mulai dari air yang terkontaminasi, sedimen tambak, pakan yang terkontaminasi atau bisa karena perilaku kanibalisme terhadap udang yang sudah mati.
Setelah masuk ke tubuh udang, bakteri akan langsung mengincar organ pencernaan. Bakteri akan melepas toksin PirA/PirB dan mulai menyebar ke sel-sel tubulus pada hepatopankreas. Akibatnya, sel-sel mulai terkelupas dan membuat kematian jaringan hingga organ mulai mengalami disfungsi secara total.
Gejala Klinis di Tambak
Mengingat penyebaran penyakit ini sangat cepat, maka untuk mengendalikannya petambak harus berpacu dengan waktu. Jika terlambat, maka kerugian sudah pasti tidak terelakkan. Untuk itu, pahami gejala-gejala dengan cepat.
Atrofi Hepatopankreas: Hepatopankreas tiba-tiba mengecil ukurannya, teksturnya menjadi lembek dan warnanya jadi pucat.
Saluran Pencernaan Kosong (Empty Gut): Jika diperhatikan, usus udang jadi terlihat kosong atau putus-putus, seolah tidak ada sedikitpun pakan yang masuk ke dalam ususnya. Hal ini bisa terjadi karena memang udang kehilangan nafsu makannya, sehingga ia tak mau makan saat diberi pakan.
Perubahan Perilaku: Dilihat dari perilakunya, udang akan kebanyakan diam atau lemas. Kebanyakan akan berkumpul di dasar kolam hingga tanpa sadar sudah banyak udang yang mati di area tersebut.
Strategi Pencegahan dan Pengendalian
Mengingat kerusakan yang diakibatkan penyakit ini sangat cepat, maka penanganan setelah infeksi seringkali terlambat. Maka dari itu, fokus utama petambak sebaiknya adalah melakukan pencegahan. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit ini adalah:
Menggunakan benur terpercaya dengan sertifikasi Specific Pathogen Free (SPF) atau Specific Pathogen Resistant (SPR), terutama yang sudah dinyatakan bebas infeksi AHPND.
Persiapan air yang ketat dengan cara melakukan penyaringan dan desinfeksi pasokan air sebelum memasukkan ke dalam kolam tambak.
Setelah proses budidaya berlangsung, pastikan untuk terus melakukan pembersihan dasar tambak dengan rutin untuk mencegah akumulasi bahan organik terlalu banyak.
Aplikasikan probiotik dengan rutin untuk menjaga mikroorganisme baik terus ada di dalam tambak. Mikroorganisme baik ini akan menekan populasi bakteri patogen seperti Vibrio parahaemolyticus.
Terapkan manajemen pakan yang presisi dengan memantau kebiasaan makan udang dengan anco. Hal ini dilakukan untuk menghindari overfeeding yang berpotensi menurunkan kualitas air.
Baca Juga




Komentar