top of page

Temuan Baru, Telur Ikan Sapu-Sapu Bisa Jadi Plastik Ramah Lingkungan

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 32 menit yang lalu
  • 2 menit membaca

Ikan sapu-sapu saat ini sudah menginvasi banyak perairan di Indonesia. DKI Jakarta merupakan provinsi pertama yang melakukan gerakan pembasmian ikan sapu-sapu karena dinilai sudah merusak ekosistem asli perairan.

 

Masalah dalam Pembasmian Ikan Sapu-Sapu

Pembasmian yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta dinilai cukup memuaskan, dalam waktu kurang dari satu bulan, ikan sapu-sapu yang sudah ditangkap dan dimusnahkan mencapai 10 ton lebih. Cara pemusnahan yang diterapkan ialah dengan mengubur ikan sapu-sapu di lahan kosong jauh dari pemukiman.

 

Pada awal operasi, pembasmian ikan sapu-sapu masih berjalan lancar, namun lama kelamaan karena jumlah ikan yang berhasil ditangkap semakin banyak membuat lahan tempat penguburan ikan sapu-sapu semakin sempit dan ini tentu menjadi permasalahan baru.

 

Ide Pemanfaatan

Dari masalah tersebut, timbul ide untuk mengelola ikan sapu-sapu menjadi produk bernilai ekonomi. Rano Karno, selaku Wagub DKI Jakarta mengemukakan idenya untuk mengelola ikan sapu-sapu menjadi arang.

 

Ide ini terbilang bagus, namun belum diuji lebih lanjut terkait keefisienannya. Karena tidak ada kejelasan, seorang content creator bernama Andrea Novita mencoba melakukan terobosan, namun tidak secara langsung memanfaatkan ikan sapu-sapu, melainkan telurnya. Andrea mencoba mengubah telur ikan sapu-sapu menjadi bioplastik.


 

Proses Ekstraksi dan Pembuatan

Penelitian ini dimulai dengan menghancurkan telur ikan sapu-sapu menggunakan blender hingga halus. Setelah halus, telur tadi dipisahkan kandungan lemaknya menggunakan alkohol.

 

Pemisahan lemak ini melewati beberapa tahap, mulai dari proses pengadukan, sentrifugasi hingga diperoleh endapan yang kemudian dikeringkan hingga membentuk bubuk protein.

 

Bubuk protein inilah yang akan diubah menjadi bioplastik, karena memiliki kemampuan alami membentuk lapisan film. Sebelum dicetak menjadi bioplastik, bubuk protein dilarutkan dengan air dan diatur pH-nya dengan presisi.

 

Larutan ini kemudian dipanaskan dan ditambahkan gliserol sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam cetakan untuk menjadi lembaran plastik tipis.


Tantangan dan Terobosan Baru

Sayangnya, lapisan plastik yang terbentuk ternyata terlalu tipis dan mudah robek. Tak mudah menyerah, Andrea kemudian mencoba memodifikasi formula yang ia gunakan. Ia memutuskan untuk mencampur protein ikan sapu-sapu dengan gelatin sapi.

 

Ternyata, hasilnya di luar dugaan, karena lapisan plastik yang dihasilkan jauh lebih elastis dan lebih kuat dibandingkan dengan eksperimen awal tanpa diberi gelatin.

 

Prospek Masa Depan

Temuan ini cukup memberi gambaran bahwa limbah telur ikan sapu-sapu bisa dimanfaatkan menjadi produk yang ramah lingkungan.


Eksperimen yang dilakukan oleh Andrea adalah pembuka jalan dan sebaiknya pemerintah memberikan dukungan dengan melakukan pengembangan lebih lanjut agar material yang dihasilkan bisa lebih kokoh, stabil dan siap diaplikasikan secara massal.



Baca Juga

Komentar


bottom of page