Sungai Jakarta Dijajah Ikan Sapu-Sapu, Pakar Unair Angkat Bicara
- Redaktur: Audri Rianto
- 12 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Bahaya! Sungai-sungai di Jakarta kini sudah dikuasai ikan sapu-sapu. Padahal, selama ini kita mengenal ikan sapu-sapu sebagai ikan pembersih kaca yang hidupnya di akuarium, terlihat seperti ikan yang lemah dan tidak berdaya. Ternyata, begitu sampai di perairan lepas, sifat aslinya mulai terlihat.

Sumber: kompas.com
Ikan ini punya kemampuan adaptasi yang hebat, bisa berkembang biak dengan cepat sampai-sampai saat ini menjadi ancaman bagi ekosistem perairan di Jakarta. Karena semakin mengkhawatirkan, Pemprov DKI Jakarta sampai turun tangan untuk membasmi ikan tersebut.
Dominasi 60 Persen Perairan Jakarta
Alasan mengapai Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mulai gencar membentuk operasi pembasmian ikan sapu-sapu, karena menurut data ikan sapu-sapu kini sudah mendominasi lebih dari 60 persen perairan di Jakarta.
Ikan ini tidak hanya mendominasi ruang hidup saja, tapi juga memangsa telur-telur ikan asli di perairan tersebut. Akibatnya, ikan asli jadi sulit bertahan hidup dan membuat populasinya semakin menurun dari waktu ke waktu.
Mengapa Populasi Ikan Sapu-Sapu Bisa "Meledak"?
Ledakan populasi ikan sapu-sapu di Jakarta ternyata menarik perhatian seorang pakar perikanan dari Universitas Airlangga (Unair), Dr. Veryl Hasan, SPi, MP.
Dilansir dari kompas.com, Ia beranggapan bahwa meningkatnya populasi ikan sapu-sapu hingga sulit dikendalikan seperti saat ini bukan cuma perkara kemampuan adaptasi mereka yang luar biasa, tapi juga cerminan dari buruknya kualitas air sungai yang ada di Jakarta.
Daya tahan ikan sapu-sapu terhadap air kotor dan rendah oksigen memang luar biasa. Mereka terus hidup dan berkembang biak, sementara ikan lokal banyak yang mati di kondisi perairan seperti itu. Inilah yang kemudian membuat populasi mereka terlihat seolah meledak.
Tidak Cukup Hanya Sekadar Menangkap
Setelah dilakukan operasi tangkap ikan sapu-sapu secara serentak, Pemerintah Kota Jakarta Timur berhasil menjaring 763 kg ikan sapu-sapu dalam satu kali aksi. Sayangnya, bagi Dr. Veryl Hasann langkah ini belum cukup.
Agar lebih maksimal, ekosistem harus dipulihkan dengan cara memperbaiki habitat yang telah lama rusak. Perbaiki kualitas air sungai, dengan begitu ikan lokal bisa hidup dengan layak sehingga daya saing mereka untuk memperebutkan ruang hidup kembali tinggi.
Masyarakat Juga Harus Terlibat
Dr. Veryl Hasan juga mengatakan bahwa masyarakat punya peran penting dalam memutus rantai invasi ini.
Masyarakat harus diberi edukasi untuk tidak melepas ikan hias non lokal ke sungai. Selain itu, jika dirasa tidak mampu lagi merawat, sebaiknya diberi atau dijual ke penghobi lain yang lebih bertanggung jawab.
Selanjutnya, masyarakat juga harus sadar untuk menjaga kebersihan sungai dengan mengurangi bahkan menghentikan kebiasaan membuang sampah dan limbah rumah tangga ke sungai supaya kualitas air kembali membaik dan memberi kesempatan ikan lokal untuk kembali berjaya.
Baca Juga




Komentar