Strategi Menjaga Alkalinitas di Musim Penghujan agar Budidaya Tetap Stabil
- Redaktur: Audri Rianto
- 15 Jan
- 2 menit membaca
Dalam budidaya udang, musim penghujan merupakan musim yang penuh tantangan. Mengapa begitu? Karena hujan dapat menurunkan kualitas air dalam tambak, terutama kadar alkalinitas.

Sumber: news.cgtn.com
Ketika alkalinitas turun akibat hujan berkepanjangan, maka fluktuasi pH akan terjadi secara ekstrem. Kondisi tersebut jika dibiarkan saja dalam waktu yang lama, maka dapat membuat udang stres yang berujung pada kematian massal.
Bagaimana cara mengantisipasinya? Simak strategi lengkap menjaga alkalinitas di musim penghujan berikut ini.
Pentingnya Alkalinitas pada Tambak Udang
Alkalinitas merupakan kemampuan air untuk menetralkan asam, jadi bisa dikatakan bahwa alkalinitas adalah penyangga terhadap perubahan pH. Alkalinitas yang optimal dan stabil akan menjaga tambak dari ancaman fluktuasi pH yang ekstrem.
Agar tambak tetap memiliki lingkungan yang kondusif, maka kadar alkalinitas harus berada pada kisaran 100-150 ppm. Jangan sampai berada di bawah angka tersebut, karena bisa membuat udang rentan stres dan mati.
Dampak Air Hujan terhadap Alkalinitas Kolam
Indonesia sendiri merupakan negara tropis yang setiap tahunnya sudah pasti akan mengalami musim hujan. Air hujan diketahui bersifat asam dan kandungan mineralnya sedikit. Ketika hujan turun dalam intensitas tinggi, maka akan terjadi pengenceran pada air tambak.
Dampaknya adalah konsentrasi karbonat dan bikarbonat juga menurun, berlanjut pada penurunan pH secara mendadak yang mengakibatkan udang mengalami gangguan metabolisme.
Ketika musim hujan datang disaat udang sedang berada pada fase molting, maka ada kemungkinan moltingnya akan mengalami gangguan. Pembentukan cangkang baru akan terhambat, membuat udang mengalami penyakit cangkang lunak.
Strategi Menjaga Alkalinitas di Musim Penghujan
Untuk menjaga ekosistem tambak tetap dalam keadaan optimal, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan petambak untuk mempertahankan kadar alkalinitas.
1. Pengapuran Secara Berkala (Liming)
Pengapuran adalah solusi paling pas untuk menaikkan kadar alkalinitas tambak. Kapur yang digunakan bisa kapur pertanian atau kapur dolomit. Pengaplikasian kapur pada tambak bisa dilakukan saat hujan mulai turun atau segera setelah hujan reda.
Kapur yang diberikan nantinya akan melepaskan ion karbonat yang dapat merangsang kenaikan alkalinitas air, sehingga pH akan tetap stabil meskipun terpapar air hujan.
2. Manajemen Pembuangan Air Atas (Over-flow)
Langkah kedua bisa dilakukan dengan membuang air permukaan atau air atas. Air hujan diketahui punya massa jenis lebih ringan dibandingkan air tambak yang asin, sehingga air hujan yang masuk tidak akan tercampur dan cenderung berada di permukaan.
Maka dari itu, tambak sebaiknya memiliki sistem pipa pembuangan atas, agar ketika ada situasi seperti ini, pembuangan air permukaan bisa dilakukan dengan efisien dan cepat. Pembuangan air permukaan ini bisa dilakukan sesegera mungkin, saat hujan lebat mulai turun.
3. Monitoring Rutin Menggunakan Test Kit
Ketika hujan turun, petambak tidak boleh menerka-nerka berada kadar alkalinitas yang mungkin turun. Pada kondisi seperti itu, insting tidak bisa diandalkan. Maka dari itu, pengecekan harus dilakukan berkala menggunakan alkalinity test kit agar hasilnya akurat (tidak boleh di bawah 80 ppm).
4. Pengaturan Pemberian Pakan
Saat hujan, suhu air juga akan turun dan biasanya nafsu makan udang juga ikut turun. Untuk itu pemberian pakan harus dikurangi, agar penumpukan sisa pakan tidak bertambah. Penumpukan pakan yang terlalu banyak bisa membusuk dan menghasilkan asam organik, yang mana itu juga bisa menyebabkan penurunan alkalinitas. Saat cuaca buruk, porsi pakan sebaiknya dikurangi 30-50%.
Baca Juga




Komentar