top of page

Sertifikat SPF Menjadi Keunggulan Udang Vaname Dari Udang Windu

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 9 Jun
  • 2 menit membaca

Pada masa jayanya, era 1980-an hingga pertengahan 1990-an udang windu sempat menjadi primadona ekspor Indonesia. Rasanya khas, ukurannya besar membuat permintaannya di pasar internasional selalu stabil bahkan harga jualnya juga tinggi.

 

Sayangnya, kejayaan itu tidak bertahan lama, karena di akhir 1990-an serangan penyakit terhadap udang windu terus meningkat, bahkan sempat timbul wabah. Serangan penyakit bertubi-tubi membuat banyak petambak gagal panen.


Sumber: nawacita.co

 

Karena dianggap rentan terkena penyakit, petambak mulai meninggalkan udang windu. Di tengah badai penyakit itu, muncul udang vaname dengan sertifikat SPF (Specific Pathogen Free) dan mengubah peta industri budidaya udang nasional.

 

Apa Sertifikat SPF?

Sertifikat SPF (Specific Pathogen Free) adalah dokumen penyerta benur yang menyatakan bahwa benur berasal dari indukan berkualitas yang bebas dari patogen spesifik tertentu.

 

Bisa dikatakan sertifikat ini adalah status kesehatan dari benur, yang berarti benur tidak membawa penyakit bawaan yang berpotensi menyebabkan wabah pada tambak.

 

Pada industri budidaya udang modern, sertifikat SPF termasuk bagian dari biosekuriti, karena membantu dalam menekan risiko serangan penyakit sejak awal siklus produksi.

 

Namun, perlu dipahami oleh petambak bahwa benur yang bersertifikat SPF bukan berarti kebal dari serangan penyakit. Udang bisa terinfeksi, jika sumber penyakit masuk ke dalam tambak.

 

Namun, benur dengan sertifikat SPF punya daya tahan lebih baik, survival rate tetap tinggi sehingga risiko gagal panen jadi kecil.

 

Keunggulan Udang Vaname

Hadirnya udang vaname dengan sertifikat SPF menjadi alasan mengapa ia lebih banyak dipilih oleh petambak. Dengan sertifikat itu, udang jadi punya status kesehatan yang jelas, artinya risiko gagal panen sangat minim jika benur yang digunakan sehat dari lahir.

 

Selain itu, benur yang sehat juga punya performa pertumbuhan yang lebih baik, sehingga masa produksinya bisa lebih cepat. Daya toleransi terhadap stresnya juga lebih baik, sehingga bisa dibudidayakan secara intensif dengan padat tebar tinggi.


Perbandingan dengan Udang Windu

Nasib udang windu tidak sebaik vaname, pasalnya program pemuliaan dan sertifikasi SPF belum dilakukan secara intensif. Ketersediaan induk yang tersertifikasi murni dari fasilitas terkontrol masih terbatas, artinya masih banyak yang mengandalkan indukan dari alam.

 

Kondisi itu membuat tingkat keberhasilan budidaya udang windu lebih berfluktuasi, tidak sestabil udang vaname. Namun, udang windu masih punya keunggulan yang tidak dimiliki udang vaname, seperti ukuran yang lebih besar, rasa yang lebih gurih serta harga jual yang lebih tinggi.

 

Bahkan, beberapa daerah di Indonesia masih rutin memproduksi udang windu dan mengekspornya ke negara-negara Asia Timur.

 

SPF Menjadi Pembeda Utama

Dari carut-marutnya kondisi budidaya udang windu di tahun 1990-an, kemunculan benur yang bebas penyakit dengan sertifikat SPF membuat vaname lebih dilirik. Petambak jadi punya benih yang seragam dan jaminan kesehatan yang lebih jelas.

 

Udang vaname dengan sertifikat SPF, dipadukan dengan teknologi modern dan penerapan biosekuriti yang ketat, membuat produksinya berjalan stabil. Faktor-faktor ini yang membuat banyak petambak berpaling hati dari windu.



Baca Juga

Komentar


bottom of page