3 Aspek Budidaya Udang Berkelanjutan yang Wajib Dipahami Petambak
- Redaktur: Audri Rianto
- 3 hari yang lalu
- 2 menit membaca
Saat ini, industri budidaya udang sudah semakin berkembang. Seiring berjalannya waktu, wilayah industri tersebut ternyata banyak yang mengalami penurunan kualitas lingkungan. Fenomena degradasi lingkungan ini juga menyebabkan pergeseran tren di pasar global.

Sumber: dsm-firmenich.com
Konsumen dunia saat ini sudah semakin kritis dalam memilih produk perikanan. Mereka hanya ingin membeli produk yang diperoleh dengan cara yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Pergeseran tren ini membuat pelaku industri harus beradaptasi kembali. Mereka mulai merombak jalan usaha mereka dan mulai menerapkan sistem budidaya yang lebih ramah lingkungan.
Setidaknya, ada tiga aspek yang harus mereka penuhi agar udang yang mereka hasilkan masuk ke dalam kategori produk ramah lingkungan dan berkelanjutan.
1. Aspek Ekologi
Aspek ekologi dalam budidaya udang berkaitan dengan kualitas ekosistem perairan di sekitar tambak. Pembukaan lahan tambak harus memperhatikan daya dukung lingkungan (carrying capacity), karena akumulasi limbah organik yang terjadi secara masif selama siklus budidaya tidak hanya merusak tambak itu sendiri, tapi juga berdampak pada lingkungan sekitarnya.
Hal yang tak kalah penting adalah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Usahakan IPAL tersedia di setiap tambak, tujuannya untuk mengolah limbah hasil budidaya sebelum dibuang kembali ke perairan umum.
2. Aspek Ekonomi
Keberlanjutan bisnis budidaya udang sangat bergantung pada profit atau keuntungan yang didapat. Keuntungan yang didapat harus konsisten dan stabil di setiap siklus budidaya.
Hal tersebut bisa diwujudkan melalui efisiensi biaya produksi, pengelolaan risiko penyakit dan pembukaan akses pasar yang lebih luas.
Efisiensi pakan berkaitan erat dengan nilai Feed Conversion Ratio (FCR), artinya manajemen pemberian pakan harus dilakukan sebaik mungkin. Gunakan auto feeder dan pemantauan anco rutin untuk mempelajari kebutuhan pakan harian udang demi menghindari pemborosan akibat praktik overfeeding.
Risiko paparan penyakit dapat dicegah dengan pemantauan parameter fisika dan kimia air. Pastikan semuanya dalam keadaan stabil supaya bakteri seperti Vibrio tidak bisa mendominasi perairan tambak. Dengan begitu, survival rate udang akan tetap tinggi sampai panen tiba.
Menerapkan standar sertifikasi global juga sangat diperlukan guna membuka akses pasar yang lebih luas. Apalagi saat ini sudah banyak negara yang menuntut produk perikanan bersertifikasi seperti ASC (Aquaculture Stewardship Council) atau BAP (Best Aquaculture Practices) yang menandakan bahwa produk didapat dari praktik budidaya yang sehat.
3. Aspek Sosial
Tambak udang yang bisa beroperasi dan menghasilkan itu tidak terlepas dari hubungan timbal balik antara pemilik usaha, pekerja dan masyarakat sekitar.
Paling utama, tambak udang harus punya legalitas yang jelas. Legalitas yang jelas berhubungan dengan izin usaha dan pengelolaan lingkungan sesuai dengan regulasi pemerintah.
Tenaga kerja sebaiknya diprioritaskan dari masyarakat sekitar. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi sekaligus menghindari potensi konflik sosial.
Selanjutnya, pastikan bahwa usaha budidaya udang menerapkan standar keselamatan kerja yang ketat bagi para teknisi tambak dan menjamin hak-hak kesejahteraan pekerja secara adil.
Baca Juga




Komentar