Mengelola Limbah Tambak Udang untuk Budidaya Berkelanjutan
- Redaktur: Audri Rianto
- 21 jam yang lalu
- 3 menit membaca
Setiap negara produsen udang sudah pasti berlomba-lomba meningkatkan produksinya setiap tahun. Hal ini dilakukan demi memenuhi permintaan global sekaligus mengukuhkan posisi sebagai produsen terbesar udang dunia.
Akibat dari peningkatan produksi ini, ternyata limbah yang dihasilkan juga meningkat pesat. Risiko kerusakan lingkungan juga menjadi semakin sulit dihindari.

Sumber: mediatani.co
Pengelolaan limbah harus dilakukan sebaik mungkin supaya daya dukung lingkungan tetap optimal dan tambak bisa terus produktif dalam jangka waktu yang lama.
Apa Saja Limbah Tambak Udang?
Limbah tambak udang dihasilkan dari berbagai aktivitas budidaya, mulai dari pakan, kotoran udang, kulit sisa molting, bakteri dan fitoplankton yang mati. Bahan-bahan tersebut akan menyatu dengan air dan membuatnya mengandung bahan organik yang tinggi.
Jika air dengan bahan organik yang terlalu tinggi dibuang langsung ke perairan umum, tentu akan memberikan tekanan terhadap lingkungan. Kualitas air di perairan sekitar menjadi buruk dan bisa mematikan biota yang ada.
Untuk menghindari hal tersebut, perlu dilakukan pengelolaan limbah yang tepat mulai dari awal budidaya sampai pembuangan air ke lingkungan sekitar.
1. Perbaiki Manajemen Pakan Udang
Langkah awal dalam upaya mengurangi produksi limbah tambak udang adalah dengan memperbaiki manajemen pakan.
Pastikan bahwa pakan yang diberikan sesuai dengan yang dibutuhkan udang, karena praktik overfeeding bisa membuat banyak pakan yang terbuang dan menjadi endapan bahan organik di dasar kolam.
Selain itu, gunakan pakan berkualitas dengan daya cerna tinggi agar nutrisi bisa terserap sempurna dan tidak terbuang lewat kotoran udang.
2. Lakukan Penyiponan Secara Rutin
Selama proses budidaya berjalan, sebaiknya petambak rutin melakukan siphon tujuannya untuk membuang limbah organik dan lumpur tambak dari dasar kolam.
Selain dapat membuat kualitas air terus stabil, melakukan siphon secara rutin juga dapat membuat air yang akan dibuang nantinya memiliki beban organik yang lebih rendah.
3. Gunakan Kolam Pengendapan
Penting bagi petambak untuk memiliki kolam pengendapan. Kolam pengendapan ini akan digunakan untuk menampung air sisa budidaya sebelum dibuang ke lingkungan sekitar.
Air tersebut akan diendapkan selama beberapa hari sampai padatan tersuspensi yang terkandung dalam air benar-benar mengendap di dasar. Dengan metode ini, padatan tersuspensi bisa dikurangi sampai 90 persen.
4. Manfaatkan Probiotik untuk Mengolah Limbah
Memanfaatkan probiotik dalam membantu mengurai limbah juga menjadi strategi yang tepat. Bakteri seperti Bacillus, Pseudomonas, Nitrosomonas, dan Nitrobacter, dapat membantu menguraikan berbagai senyawa organik dan mengurangi beban organik di dalam air.
Probiotik bisa diaplikasikan saat budidaya masih berlangsung dan juga bisa diaplikasikan pada kolam pengendapan limbah sebelum air dibuang ke lingkungan.
5. Terapkan Sistem Bioflok
Untuk mengurangi intensitas pembuangan air, petambak bisa mengaplikasikan sistem bioflok pada usaha budidaya udangnya.
Pada sistem ini, petambak bisa menambahkan karbon tambahan seperti molase untuk menjaga keseimbangan karbon dan nitrogen di dalam air.
Kondisi tersebut nantinya akan membuat mikroorganisme tumbuh dan membentuk flok dengan cara merubah amonia dan bahan organik menjadi sumber makanan untuk udang.
6. Gunakan Sistem Polikultur
Menerapkan sistem polikultur juga menjadi pilihan yang tepat untuk mengurai beban limbah di air tambak. Polikultur adalah sistem budidaya yang menggabungkan dua spesies dalam satu kolam, seperti udang dan ikan nila atau bandeng.
Dua jenis ikan itu akan mengonsumsi bahan organik yang ada di kolam tambak, membuat air lebih bersih sebelum dilakukan pengelolaan lanjutan.
7. Manfaatkan Mangrove sebagai Penyaring Alami
Setelah 6 cara di atas diterapkan, maka langkah terakhir ialah melakukan penyaringan air limbah dengan menggunakan mangrove.
Ketika air limbah dialirkan ke kawan mangrove sebelum menuju perairan laut, padatan tersuspensi yang ada dalam air akan disaring terlebih dahulu. Sisa nutrisi dan bahan organik akan diserap oleh mangrove, sehingga air menjadi lebih aman ketika masuk perairan lepas.
Baca Juga




Komentar