Faktor Pendorong Pergeseran Budidaya Udang Windu ke Vaname
- Redaktur: Audri Rianto
- 39false57 GMT+0000 (Coordinated Universal Time)
- 2 menit membaca
Dulu, tepatnya pada tahun 1990-an industri budidaya udang Indonesia didominasi oleh udang windu. Udang ini begitu populer, bahkan hingga ke mancanegara karena rasanya yang gurih dan ukurannya yang besar.
Indonesia menjadi salah satu negara yang rutin mengekspor udang windu ke beberapa negara kala itu. Namun, kejayaan udang windu perlahan mulai runtuh ketika adanya wabah penyakit yang membuat produksi udang windu nasional.
Banyak petambak di Indonesia mengalami kerugian hingga trauma akibat udangnya gagal panen karena mati massal.
Wabah penyakit tersebut menjadi titik balik pergeseran para petambak Indonesia, dari yang awalnya membudidayakan udang windu hingga akhirnya memutuskan untuk beralih membudidayakan udang vaname.
Sebagai suksesor, udang vaname dinilai sukses menggantikan udang windu. Faktor apa saja yang melatarbelakangi hal ini?

Sumber: uknow.uky.edu
Faktor Utama yang Mendorong Peralihan ke Udang Vaname
Setelah industri perikanan budidaya Indonesia berjuang keluar dari wabah, akhirnya di awal tahun 2000-an KKP mengenalkan udang vaname. Sejak saat itu, udang vaname menjadi pilihan para petambak hingga sekarang. Berikut ini alasan mengapa petambak serentak beralih ke udang vaname.
1. Ketahanan Unggul Terhadap Serangan Penyakit
Wabah White Spot Syndrome Virus (WSSV) adalah penyebab runtuhnya kejayaan udang windu di Indonesia. Udang windu sangat rentan terhadap penyakit ini, karena secara alami memang penyakit ini gampang menyebar.
Kehadiran udang vaname menjadi angin segar, karena termasuk benur modern udang vaname sudah melalui proses rekayasa genetik yang membuatnya lebih tangguh menghadapi WSSV dan beberapa penyakit lain.
Dengan kemampuannya itu, petambak Indonesia kembali menaruh harapan pada udang vaname dan benar saja, hasilnya sangat memuaskan bahkan hingga sampai saat ini vaname masih menjadi produk utama industri udang di Indonesia.
2. Efisiensi Waktu Melalui Siklus Panen yang Cepat
Udang vaname punya waktu budidaya yang lebih cepat dari windu, sehingga lebih cepat dipanen. Hal ini bisa terjadi karena metabolisme udang vaname lebih baik dari windu, membuat pertumbuhannya berjalan lebih cepat.
Waktu panen yang lebih cepat adalah idaman para petambak, karena mereka bisa mempercepat perputaran modal.
3. Optimalisasi Lahan dengan Sistem Padat Tebar Tinggi
Udang windu tidak bisa dibudidaya dalam jumlah banyak (padat tebar tinggi) karena ia termasuk hewan teritorial yang akan saling serang dan memakan satu sama lain jika saling bersentuhan.
Udang vaname tidak seperti itu, ia lebih toleran saat hidup berkoloni. Karakter yang berbeda ini membuat vaname lebih unggul, karena bisa dibudidaya dalam jumlah banyak dengan sistem intensif, keuntungan yang didapat petambak juga jauh lebih besar.
4. Adaptasi Lingkungan dan Fleksibilitas Salinitas
Udang windu butuh parameter air yang spesifik dan stabil, artinya sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Sementara itu, udang vaname lebih fleksibel karena bisa beradaptasi di suhu dan salinitas yang lebih luas.
5. Standarisasi Permintaan Pasar Ekspor
Setelah pergeseran besar-besaran, udang vaname menjadi primadona baru di pasar internasional dengan permintaan pasar yang stabil sampai saat ini.
Permintaan terhadap udang vaname akan terus ada, karena ukurannya lebih seragam serta lebih gampang diproses sebagai produk olahan beku sehingga sangat diminati industri pengolahan pangan modern.
Baca Juga




Komentar