top of page

Ketahanan Penyakit Udang Vaname Buat Petambak Beralih dari Windu

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 35 menit yang lalu
  • 2 menit membaca

Industri udang di Indonesia sempat mengalami pergeseran besar-besaran. Pergeseran yang dimaksud adalah fenomena petambak beralih dari membudidayakan udang windu ke udang vaname. Pergeseran yang terjadi di awal tahun 2000-an ini ternyata menjadi langkah yang tepat untuk menyelamatkan sektor perikanan budidaya Indonesia.

 

Pasalnya, di waktu itu industri budidaya udang windu sedang mengalami masalah besar. Banyak udang windu mengalami mati massal akibat wabah penyakit, membuat produksi udang nasional turun drastis.


 

Setelah hadir udang vaname, industri udang mulai membaik hingga saat ini menjadi primadona di pasar internasional. Mengapa udang vaname bisa begitu cepat menggeser singgasana udang windu? Berikut ini ulasan lengkapnya.

 

1. Keunggulan Benur SPF (Specific Pathogen Free)

Masalah yang ada pada udang windu adalah rentan terinfeksi penyakit, hingga mati massal. Kemunculan udang vaname membawa angin segar bagi petambak, karena udang ini memiliki keunggulan berupa ketahanan terhadap penyakit.

 

Udang vaname hadir dengan bernur bersertifikat SPF (Specific Pathogen Free), yang berarti pembenihan dilakukan dengan biosekuriti ketat dan benih dipastikan tidak terkontaminasi patogen baik itu virus maupun bakteri.

 

Hal semacam ini tidak dimiliki oleh udang windu, karena sebagian besar benih udang windu masih mengandalkan indukan yang berasal dari alam, sehingga rentan membawa virus bawaan.

 

2. Resistensi Tinggi terhadap Virus WSSV dan TSV

Kejayaan udang windu di era 1990-an hancur gara-gara wabah White Spot Syndrome Virus (WSSV). Udang vaname sebagai pendatang baru hadir sebagai solusi, karena daya tahan tubuhnya yang lebih adaptif.

 

Udang vaname bisa terinfeksi penyakit yang sama, hanya saja tingkat kelangsungan hidupnya lebih tinggi. Udang windu bisa langsung mati massal dalam beberapa hari setelah terinfeksi, sementara udang vaname jauh lebih kuat dan bisa hidup sampai panen.

 

3. Adaptasi Ruang dan Sistem Padat Tebar Tinggi

Daya adaptasi udang vaname terhadap lingkungan jauh lebih baik dari udang windu. Udang vaname bisa hidup berdampingan dengan jumlah yang banyak di satu kolam tambak, sementara udang windu tidak bisa, karena rentan mengalami kanibalisme.

 

Kelebihan ini membuat udang vaname bisa dibudidayakan dengan metode intensif dengan potensi keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan udang windu.

 

4. Toleransi Salinitas dan Fluktuasi Kualitas Air

Dibandingkan dengan udang windu, udang vaname punya kemampuan osmoregulasi yang kuat, membuatnya bisa beradaptasi di lingkungan dengan salinitas yang berfluktuasi. Udang vaname bahkan bisa hidup di air dengan salinitas 0,5 ppt dan yang tertinggi 40 ppt.

 

Meski begitu, kondisi salinitas seperti itu tidak bisa dibiarkan terlalu lama, karena udang vaname juga bisa mengalami stres dan membuatnya jadi rentan terserang patogen oportunistik.

 

5. Siklus Budidaya Singkat dan Efisiensi Pakan

Dari segi ekonomi, udang vaname membantu petambak memutar modalnya lebih cepat, karena waktu panennya yang lebih singkat (90-120 hari). Karena masa budidayanya yang lebih singkat, maka biaya operasional juga menjadi lebih sedikit, artinya potensi keuntungan yang didapat petambak jauh lebih besar dibandingkan membudidaya udang windu.



Baca Juga

bottom of page