Pergeseran Industri Udang Indonesia dari Windu ke Vaname
- Redaktur: Audri Rianto
- 7 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Indonesia sempat punya spesies udang yang mendunia bernama udang windu. Udang ini sangat populer di pasar domestik maupun internasional, karena memang cita rasanya yang nikmat dan cocok di semua lidah pecinta seafood.
Udang windu juga sempat menjadi ujung tombak ekspor perikanan Indonesia, bahkan termasuk salah satu primadona ekspor, karena permintaannya di pasar internasional selalu stabil.

Sumber: fineandwild.com
Sayangnya, untuk saat ini kepopuleran udang windu sudah mulai redup dan digantikan oleh udang vaname. Bahkan, pergeseran ini juga termasuk strategi penyelamatan ekonomi paling sukses dalam sejarah perikanan Indonesia.
Mengapa pergeseran minat dari udang windu ke udang vaname bisa terjadi? Apa yang membuat udang vaname sampai saat ini mendominasi pasar global? Berikut ini ulasan lengkapnya.
Era Keemasan Udang Windu dan Wabah WSSV
Udang windu (black tiger shrimp) termasuk komoditas ekspor utama Indonesia di era 1980-an hingga awal 1990-an. Hal yang paling diminati pasar global dari udang ini adalah ukurannya yang besar serta rasa dagingnya yang gurih.
Sialnya, era kejayaan udang windu ini tidak bertahan lama, karena di pertengahan 1990-an terjadi wabah White Spot Syndrome Virus (WSSV). Penyakit ini cepat sekali menyebar, membuat banyak petambak di Indonesia kalang kabut, karena udangnya mati massal secara tiba-tiba.
Fenomena mati massal ini terjadi serentak di beberapa daerah, membuat produksi nasional menurun drastis dengan kerugian mencapai triliunan rupiah pada saat itu.
Masuknya Udang Vaname Sebagai Solusi Konstruktif
Dari kejadian itu, petambak mulai menyadari bahwa udang windu rentan terkena wabah penyakit dengan risiko gagal panen yang tinggi. Hal ini juga sempat membuat banyak petambak trauma dan tidak mau kembali membudidayakan udang.
Di tengah keterpurukan, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai memperkenalkan udang vaname di tahun 2001. Udang dari Amerika Latin ini diklaim punya daya tahan lebih baik dibandingkan udang windu, bisa dibudidayakan dalam jumlah besar, dan yang paling penting panennya jauh lebih cepat.
Kabar ini tentu menjadi angin segar bagi para petambak yang sempat mengalami trauma. Pelan-pelan, petambak yang sempat merugi sebelumnya kembali produktif dengan membudidayakan spesies baru.
Dominasi Udang Vaname dan Modernisasi Tambak
Sejak saat itu, peta budidaya udang Indonesia sudah berubah total. Udang vaname kini sudah mendominasi lebih dari 75% dari total produksi udang nasional.
Pergeseran ini juga mendorong modernisasi teknologi, seperti penggunaan kincir, penerapan pemberian pakan otomatis, hingga sistem biosecurity yang ketat guna mencegah timbulnya wabah. Bisa dikatakan, udang vaname saat ini sudah menjadi tulang punggung ekspor perikanan Indonesia dengan pangsa pasar yang cukup luas.
Bagaimana nasib udang windu saat ini? Masih ada petambak di beberapa daerah yang membudidayakannya secara terbatas. Bahkan, untuk saat ini permintaan udang windu sudah bergeser ke pasar premium, karena ukuran yang lebih besar dan rasanya yang lebih gurih dari udang vaname.
Baca Juga
