Musim Kemarau Rawan Memicu Eutrofikasi pada Tambak Udang
- Redaktur: Audri Rianto
- 11 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Musim kemarau, setiap tahunnya pasti akan datang, bisa itu lebih cepat atau lebih lambat. Untuk musim kemarau di tahun 2026 ini, datangnya tepat waktu hanya saja akan terasa sedikit lebih ekstrem karena disertai fenomena yang disebut El Nino Godzilla.

Sumber: seafoodsource.com
Musim kemarau biasa saja membuat petambak kewalahan, konon lagi disertai dengan El Nino. Mengapa petambak resah dengan kemarau? Karena cuaca ekstrem saat kemarau bisa mempengaruhi ekosistem tambak.
Efek yang ditimbulkan kebanyakan adalah efek negatif yang bisa meningkatkan risiko kerugian. Masalah yang paling sering muncul saat kemarau adalah air tambak mengalami eutrofikasi atau peningkatan kadar nutrien.
Nutrien yang pekat bisa menimbulkan masalah serius, yaitu memicu pertumbuhan alga yang sangat banyak, saking banyaknya bisa-bisa sulit dikendalikan. Apa yang membuat tambak mengalami eutrofikasi saat kemarau? Ada beberapa faktor yang dipercaya menjadi penyebabnya.
Penyusutan Volume Air
Musim kemarau sudah pasti meningkatkan suhu udara secara intens. Suhu yang tinggi ini membuat air tambak menguap hingga volume air berkurang. Air yang semakin sedikit ini membuat nutrien dari sisa pakan dan kotoran udang menjadi pekat.
Padahal, nutrien yang ada dalam tambak jumlahnya masih sama, hanya karena air tambak yang berkurang karena menguap bisa membuat konsentrasinya menjadi pekat. Kepekatan ini membuatnya seolah mengalami peningkatan kadar atau jumlah.
Bahaya Tersembunyi
Eutrofikasi sangat gampang untuk ditandai, karena saat air tambak mengalami kelimpahan nutrisi maka alga akan tumbuh subur, membuat air tambak menjadi hijau pekat. Meski terlihat bagus, nyatanya kondisi itu cukup membahayakan.
Saat blooming alga, fluktuasi oksigen akan menjadi ekstrem. Saat siang hari, alga memang membantu menghasilkan oksigen dari proses fotosintesis. Tapi, ketika malam hari mereka akan menyerap kembali oksigen tersebut (respirasi), bahkan oksigen yang diserap bisa lebih banyak karena jumlah mereka yang sudah sangat banyak dan tak terkendali.
Proses itu membuat kadar oksigen terlarut menurun drastis, padahal di saat yang sama udang juga membutuhkan oksigen yang cukup. Akibatnya udang menjadi rawan stres bahkan bisa mati karena kekurangan oksigen.
Selain itu, eutrofikasi sama artinya dengan semakin banyak limbah organik yang menumpuk dan membusuk di dasar tambak. Apalagi oksigen dalam air sangat minim, maka proses dekomposisi terjadi secara anaerob dan produk sampingan yang terbentuk adalah amonia. Kita tahu bahwa senyawa ini sangat beracun dan bisa membuat udang mati massal.
Strategi Pencegahan dan Manajemen Kualitas Air
Agar tambak bisa terus produktif serta tidak menghasilkan senyawa beracun saat kemarau, petambak bisa melakukan beberapa hal, seperti:
Mengontrol Pemberian Pakan
Beri pakan secara terukur, artinya beri sesuai kebutuhan udang. Terkadang, saat suhu air tinggi memang membuat udang naik nafsu makannya, sayangnya pakan yang diberi kebanyakan hanya menjadi kotoran dan tidak meningkatkan bobot tubuh.
Jangan turuti kemauan udang di saat seperti itu, karena semakin banyak pakan yang diberi maka semakin banyak kotoran yang diproduksi, membuat nutrien di air terus bertambah.
Optimalkan Kinerja Aerator
Saat kemarau, tambak sangat membutuhkan aerator untuk mempertahankan kadar oksigen. Hidupkan aerator semaksimal mungkin, terutama saat malam hari agar fluktuasi oksigen bisa diminimalisir dan udang tidak akan kekurangan oksigen.
Rutin Memberi Probiotik
Langkah ini sangat penting untuk dilakukan, karena dengan adanya probiotik maka dekomposisi bahan organik akan lebih baik dan tidak menghasilkan zat racun. Kalau bisa, kombinasikan dengan penyiphonan agar dasar tambak terus bersih selama kemarau.
Baca Juga




Komentar