top of page

Air Tambak Sulit Mengikat Oksigen saat Kemarau, Ini Penyebabnya

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 4 hari yang lalu
  • 2 menit membaca

Dari sekian banyak parameter kualitas air, oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) merupakan parameter paling dasar yang harus senantiasa ada di dalam tambak.

 

Tanpa oksigen yang cukup, udang tidak bisa apa-apa. Kemungkinan yang akan terjadi ketika udang kekurangan oksigen ialah stres fisiologis hingga membuatnya mati perlahan.

 

Keberadaan oksigen dalam tambak bukan hanya ditentukan dari kinerja aerator, tapi juga dipengaruhi oleh seberapa panas suhu yang ada di lingkungan.


Contohnya saat musim kemarau, cuaca sedang panas-panasnya, biasanya kadar oksigen dalam tambak akan sering berfluktuasi bahkan cenderung menurun. Mengapa bisa begitu? Ini penjelasannya!


 

Pengaruh Suhu terhadap Kelarutan Oksigen

Saat kemarau tiba, kita sudah biasa dengan kenaikan suhu udara yang ekstrem, apalagi saat ini kemarau disertai El Nino, maka kenaikan suhu bisa lebih tinggi dari biasanya.

 

Ternyata, suhu tinggi ini bisa membuat molekul air bergerak lebih cepat. Kondisi ini juga yang membuat molekul oksigen sulit bertahan di antara molekul air yang ada di tambak, membuatnya cenderung lepas ke atmosfer.


Semakin panas suhu, maka semakin banyak molekul air yang terbang ke atmosfer, akibatnya kadar oksigen terlarutnya jadi menurun.

 

Lain halnya saat suhu stabil atau lebih rendah, molekul air akan bergerak lambat, memberi ruang untuk molekul oksigen larut dan bertahan.

 

Peran Salinitas

Kemampuan air mengikat oksigen ternyata tidak hanya dipengaruhi suhu, tapi juga kadar salinitas. Sayangnya, saat kemarau baik suhu maupun salinitas, keduanya sama-sama meningkat drastis.


Ion-ion garam yang semakin pekat punya gaya tarik yang kuat terhadap molekul air dibandingkan molekul oksigen.

 

Proses ini secara tidak sengaja membuat oksigen terdesak keluar dari larutan. Itulah pentingnya dilakukan pengenceran dengan memasukkan air tawar ke dalam tambak saat kemarau, supaya nilai salinitas bisa terjaga dan air bisa kembali mengikat oksigen.

 

Mengontrol Suhu dan Salinitas Tambak Saat Kemarau

Saat kemarau, petambak tidak bisa mencegah kenaikan suhu dan salinitas dalam tambak, tapi petambak bisa mengontrolnya agar terus stabil. Dua langkah kunci yang harus dilakukan dengan tepat dan berkala.

 

1. Mengontrol Ketinggian Air

Penguapan air saat kemarau akan sangat tinggi, bisa membuat ketinggian air tambak menurun. Efeknya air menjadi gampang panas dan salinitas menjadi lebih pekat. Untuk mengontrol ketinggian air, petambak bisa menambahkan air tawar ke dalam tambak secara berkala. Tambahkan pelan-pelan sampai ketinggian air tambak berada di rentan 1,2 – 1,5 meter.

 

2. Aerasi Maksimal

Selain bekerja memasok oksigen ke dalam air tambak, aerasi juga dapat membantu menstabilkan suhu air. Kincir akan mengaduk air secara merata, membuat air permukaan yang lebih panas tercampur dengan air dasar tambak yang lebih dingin. Efeknya, panas akan lebih menyebar dan suhu air menjadi lebih stabil.

 

Kesimpulan

Suhu dan salinitas sama-sama mempengaruhi kemampuan air untuk mengikat oksigen. Oleh sebab itu, kedua harus dikontrol dengan baik, terutama saat musim kemarau.


Cukup dua langkah yang harus dilakukan petambak, yaitu menjaga ketinggian air dan menjalankan aerator semaksimal mungkin.

 

Jika dua langkah itu sudah dilakukan dengan baik, maka suhu dan salinitas tambak di musim kemarau akan lebih terjaga, membuat udang lebih sehat dan tetap produktif.



Baca Juga

Komentar


bottom of page