Inovasi Spektakuler Budidaya Udang di Gurun Pasir
- Redaktur: Audri Rianto
- 6 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Jika kita membayangkan padang pasir, maka yang ada di pikiran kita tentu sebuah tempat yang kering, gersang tanpa ada sumber air. Segala bentuk kegiatan budidaya sudah pasti tidak mungkin dilakukan di sana.

Sumber: charlesyoungcentre.org.uk
Namun, Cina bisa mengubah perspektif tersebut, karena baru-baru ini Cina kembali membuat terobosan, yaitu mengubah gurun pasir menjadi tempat budidaya ikan dan udang.
Dilansir dari charlesyoungcentre.org.uk, inovasi tersebut berhasil menjadi sorotan dunia dan dianggap sebagai solusi ketahanan pangan masa depan.
Transformasi Gurun Gobi
Selama berabad-abad, Gurun Gobi yang terletak di wilayah utara Beijing dikenal sebagai daratan mati. Sejauh mata memandang, kita hanya bisa melihat tumpukan pasir yang luas dengan udara yang kering.
Berkat proyek akuakultur yang ambisius, lautan pasir tersebut saat ini sudah dihiasi dengan kolam-kolam berwarna biru yang berkilau. Seperti tidak mungkin, saat ini daerah yang biasa diterjang debu pasir, kini memiliki aroma laut yang khas.
Bagaimana Udang Bisa Hidup di Gurun?
Membangun tambak di tengah lautan pasir tentu bukan perkara yang mudah. Hal pertama yang terlintas di pikiran tentu “dari mana airnya berasal?” Berkat teknologi, ilmuwan Cina bisa mendatangkan air dengan mudah.
1. Pemanfaatan Air Bawah Tanah (Aquifer)
Ilmuwan berhasil memetakan sumber air purba yang terletak di bawah lapisan pasir. Air ini sifatnya payau (bersalinitas), jadi sangat cocok untuk budidaya udang terutama udang vaname. Sayangnya, cadangan air di gurun tersebut belum diketahui secara pasti jumlahnya.
Mengingat wilayah budidaya merupakan wilayah kering dengan curah hujan yang hampir nol setiap tahunnya, maka cara mengatasinya ialah dengan melakukan sistem daur ulang air untuk mengurangi pemborosan.
2. Energi Surya dan Kendali Otomatis
Memanfaatkan panas matahari gurun, ilmuwan memasang panel surya di samping kolam untuk menyuplai listrik pada pompa dan sensor. Pemantauan suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut semua dilakukan secara otomatis dan realtime dengan bantuan sensor.
3. Kolam Bioflok
Inovasi lainnya yang tak kalah penting adalah kolam dengan sistem bioflok. Teknologi ini sangat tepat digunakan untuk mengurangi pencemaran, karena mikroorganisme yang ada dapat mengubah limbah menjadi nutrisi bagi udang. Selain itu, sistem bioflok juga memungkinkan kualitas air tetap stabil dan penggunaan pakan menjadi lebih efisien.
Tidak Hanya Untuk Udang
Ternyata, tambak yang dibuat di Gurun Gobi ini tidak hanya untuk membudidayakan udang saja, melainkan juga untuk beberapa jenis ikan. Jenis ikan yang dipilih adalah ikan yang memiliki daya tahan tinggi terhadap perubahan suhu dan salinitas, contohnya ikan mas dan nila.
Dampak Lingkungan dan Ekonomi
Proyek tambak gurun ini berhasil meningkatkan produksi pangan serta membantu mengurangi penggurunan. Dengan kolam dan vegetasi yang ada di sekitarnya, tentu akan meningkatkan kelembapan area tersebut serta membuat udara menjadi lebih dingin.
Dari sisi ekonomi, tambak ini nantinya akan membuka peluang kerja baru bagi masyarakat, mulai dari manajemen kolam, pengemasan logistik, hingga perawatan infrastruktur teknologi. Ekonomi desa yang dulunya berjalan lambat bahkan stagnan, kini mulai meningkat perlahan.
Tantangan Keberlanjutan
Meskipun proyek ini terbilang sukses, namun tantangan lingkungannya tetap ada. Para ahli terus memantau dan mengontrol penggunaan air bawah tanah ini agar tidak berlebihan, karena berpotensi menyebabkan tanah amblas atau peningkatan kadar garam.
Dengan kata lain, jika proyek ini tidak dikontrol dengan baik, maka ada potensi merusak ekosistem jangka panjang.
Baca Juga
