Studi Baru Ungkap Tambak Udang Bisa Jadi Penyelamat Hutan Mangrove
- Redaktur: Audri Rianto
- 11 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Industri budidaya udang seringkali dilaporkan sebagai penyebab kerusakan lingkungan. Salah satu dampaknya adalah semakin berkurangnya hutan mangrove akibat dari pembukaan lahan tambak baru.

Sumber: betahita.id
Namun, saat ini tuduhan tersebut bisa dibantah, berkat studi baru yang dikeluarkan oleh Sustainable Fisheries Partnership (SFP). Mereka membawa perspektif baru mengenai industri budidaya udang. Mereka berpendapat bahwa industri udang justru bisa dijadikan motor utama dalam pemulihan ekosistem pesisir.
Dengan cara yang tepat, industri budidaya udang malah bisa mengembalikan hutan mangrove yang telah hilang. Dilansir dari sustainablefish.org, berikut ini ulasan lengkapnya.
Mangrove: Benteng Alami yang Tak Ternilai
Sebagian besar orang menganggap mangrove hanyalah tanaman pinggir pantai, padahal kegunaannya lebih dari itu. Mangrove punya kemampuan unik, yaitu dapat menyerap karbon empat kali lebih cepat dibandingkan hutan tropis yang ada di daratan.
Selain itu, mangrove juga bisa menjadi penyaring alami bagi polutan agar tidak masuk dan mencemari laut lepas. Hutan mangrove juga seringkali menjadi tempat tinggal bagi beberapa spesies ikan dan udang liar.
Dengan kemampuan istimewanya tersebut, mangrove merupakan senjata yang ampuh dalam menghadapi perubahan iklim.
Mengubah Tambak Udang Menjadi Solusi Lingkungan
Studi SFP ini membuka jalan bagi industri udang untuk memperbaiki reputasi mereka yang saat ini sedikit tercoreng. Untuk membantah tuduhan sebagai perusak lingkungan, industri udang bisa memulai dengan menerapkan praktik budidaya yang harmonis dengan alam.
Fokus utamanya ialah memperbaiki lahan tambak yang sudah lama terbengkalai. Di beberapa negara penghasil udang terbesar dunia, seperti Indonesia, Vietnam, Thailand, dan India, tentu banyak lahan tambak tua yang sudah tidak produktif dan terbengkalai.
Nah, SFP mendorong agar pelaku industri memperbaiki lahan-lahan tersebut dengan cara menanam kembali bibit mangrove.
Strategi Landscape-Scale
Agar langkah restorasi ini berjalan dengan baik, SFP menegaskan penanaman bibit mangrove harus dilakukan tidak hanya di satu lahan saja. Restorasi harus dilakukan dalam skala lanskap, artinya perusahaan pembeli udang, pemasok, sampai petambak kecil harus bekerja sama dalam menghubungkan potongan-potongan hutan mangrove yang saat ini terpisah.
Dengan menyatukan kembali hutan mangrove tersebut, maka perlindungan terhadap lingkungan akan jauh lebih baik dan maksimal.
Peta Pemantauan Tambak
Untuk mempermudah upaya pemulihan tersebut, SFP bersama dengan Longline Environment kini tengah mengembangkan alat berbasis peta digital untuk mengidentifikasi lokasi tambak yang masih aktif, dan lokasi tambak yang sudah ditinggalkan namun berdekatan dengan hutan mangrove.
Alat ini nantinya akan membantu pembeli udang di pasar internasional untuk memastikan udang yang diperoleh memiliki kualitas yang baik serta berkontribusi terhadap pemulihan lingkungan.
Komitmen ESG dan Masa Depan Pesisir
Komitmen ESG (Environmental, Social, and Governance) merupakan acuan bagi perusahaan pelaku industri udang yang menyatakan bahwa mereka melakukan bisnis tidak hanya semata-mata karena uang, tapi juga peduli terhadap kesehatan lingkungan, manusia, dan aturan yang benar.
Dengan memulihkan hutan mangrove, perusahaan membantu negara mencapai target iklim global (Net Zero Emission) sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat pesisir.
Baca Juga




Komentar