top of page

3 Metode Penangkapan Ikan Tuna yang Ramah Lingkungan

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 30 Mei
  • 2 menit membaca

Dalam dunia perikanan, ikan tuna adalah primadona dengan nilai ekonomi yang tinggi. Harganya yang terus melambung ini dipengaruhi oleh permintaannya yang secara global setiap tahunnya meningkat.


 

Permintaan yang tinggi ini sangat berisiko terhadap populasi tuna, karena para pelaku industri akan melakukan segala cara untuk mendapatkan banyak tangkapan. Akibatnya, banyak sekali praktik eksploitasi berlebihan.

 

Cara penangkapan tidak lagi mengandalkan cara yang ramah lingkungan, karena ingin mendapatkan jumlah tangkapan yang banyak, pelaku industri cenderung menggunakan alat tangkap destruktif seperti pukat harimau (trawl) atau jaring lingkar raksasa (purse seine) yang berpotensi merusak ekosistem laut.

 

Karena praktik penangkapan seperti itu semakin marak, maka saat ini penerapan teknik penangkapan tuna ramah lingkungan menjadi standar mutlak. Siapapun yang kedapatan menggunakan cara destruktif, maka produk tuna yang dijual tidak akan diterima oleh pasar global.

 

Inilah tiga metode penangkapan tuna yang ramah lingkungan yang direkomendasikan.

 

1. Metode Huhate (Pole and Line)

Metode Huhate atau yang dikenal sebagai pole and line merupakan teknik yang cukup ikonik di dunia perikanan berkelanjutan. Teknik ini mengandalkan joran bambu atau fiberglass, menggunakan tali pancing pendek dan mata kail tanpa pengait balik.

 

Ketika nelayan melihat ada kawanan tuna, biasanya mereka akan menyemprotkan air ke permukaan laut demi menyamarkan bayangan kapal bersamaan dengan melempar umpan hidup.

 

Semprotan air ini akan membuat ilusi seolah ada banyak mangsa, hal ini akan memicu tuna untuk melompat ke permukaan. Pada momen ini, nelayan akan mengayunkan pancing secara massal.

 

Ketika tuna menyambar umpan, tuna akan langsung disentak ke atas kapal. Dikarenakan mata kail tidak ada pengait balik, maka tuna akan lepas dengan sendirinya dan mendarat di dek, kemudian nelayan bisa melemparkan kembali pancingnya.

 

2. Pancing Ulur (Handline)

Teknik pancing ulur ini adalah metode manual, artinya sangat bergantung pada skill atau kemampuan si nelayan. Untuk menggunakan metode ini, nelayan sebaiknya menggunakan kapal dengan ukuran kecil, di bawah 5 GT.

 

Nelayan akan menurunkan satu kail pancing dengan umpan alami, baik itu cumi atau ikan layang persis di kedalaman laut tempat tuna berenang.

 

Layaknya mancing pada umumnya, saat tuna menyambar umpan, nelayan akan sigap menarik tali pancing ke atas kapal. Teknik ini sangat ramah lingkungan, karena tidak menyebabkan kerusakan habitat dan memiliki tingkat kelolosan tangkapan sampingan yang tinggi.

 

Metode ini juga kerap kali menghasilkan tangkapan tuna dengan kualitas premium karena ditangkap dan ditangani satu per satu. Ini yang membuat ikan tuna tidak stres, sehingga kualitas dagingnya tetap baik dan bernilai tinggi.

 

3. Pancing Rawai (Tuna Longline dengan Regulasi Ketat)

Pancing rawai atau longline termasuk metode ramah lingkungan untuk skala industri, namun harus tetap mematuhi regulasi yang ketat. Metode ini mengandalkan seutas tali yang panjangnya bisa sampai puluhan kilometer yang digantungi ribuan tali cabang berkail.

 

Supaya tetap aman dan berkelanjutan, longline modern wajib menggunakan circle hook (mata pancing melingkar), supaya tidak terkena atau mudah ditelan oleh penyu. Selain itu, wajib memasang jaring atau tali penghalau burung, supaya burung laut ini tidak menyambar umpan saat tali dimasukkan ke air.



Baca Juga

Komentar


bottom of page