Mengelola Tambak Udang Saat kemarau Ekstrem
- Redaktur: Audri Rianto
- 5 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Akhir-akhir ini cuaca di Indonesia sangat terik tanpa ada hujan, artinya kita sudah masuk di musim kemarau. Tapi, kemarau kali ini berbeda dari kemarau pada umumnya. Kemarau kali ini disertai dengan fenomena bernama Godzilla El Nino.

Sumber: tabiotech.com.au
Dampak dari El Nino bukan hanya mengubah pola cuaca saja, lebih buruk ia bisa mengubah pola iklim secara menyeluruh. Dalam budidaya udang, kemarau ekstrem tentu menjadi ancaman serius, karena sudah pasti ekosistem tambak akan mengalami ketidakstabilan.
Ketika lingkungan tambak menjadi tidak kondusif, maka kesehatan udang juga bisa menurun. Untuk menjaga kelangsungan hidup udang sampai panen, alangkah baiknya petambak mengikuti langkah-langkah berikut ini.
1. Manajemen Volume dan Kedalaman Air
El Nino dengan suhu yang tinggi tentu dapat memicu penurunan volume air melalui proses penguapan. Untuk itu, petambak harus fokus menjaga volume air dan kedalamannya, agar udang memiliki ruang untuk tetap bergerak bebas.
Usahakan kedalaman air tetap di atas 1,2 – 1,5 meter, agar suhu air tetap stabil dan tidak mudah berfluktuasi secara ekstrem di siang dan malam hari. Untuk menjaga ke dalam air bisa dengan melakukan top up air.
Maksudnya, ketika volume air berkurang karena penguapan, petambak bisa menambahkan air tawar ke dalam tambak untuk menjaga volume air sekaligus mengimbangi kenaikan salinitas akibat penguapan intens.
2. Pengendalian Salinitas dan Osmoregulasi
Suhu tinggi membuat air tambak rawan menguap, membuat kadar salinitas semakin tinggi. Salinitas yang terlalu tinggi bisa membuat udang stres, karena ia harus mengeluarkan energi lebih untuk melakukan osmoregulasi.
Apalagi pada udang yang sedang dalam masa molting, tentu risiko kegagalannya menjadi sangat besar.
Selain menambahkan air tawar untuk menetralkan salinitas, petambak juga harus menambahkan mineral ke dalam pakan atau ke air langsung demi melancarkan proses molting.
3. Stabilisasi Oksigen Terlarut
Air tambak yang panas (suhu tinggi) cenderung sulit mengikat oksigen, akibatnya udang bisa mengalami hipoksia (kekurangan oksigen). Untuk menyiasati kondisi ini, petambak harus mengoptimalkan kerja kincir dengan cara menambah durasi putaran di siang dan malam hari
4. Mitigasi Blooming Algae dan Amonia
Saat kemarau panjang, intensitas cahaya akan semakin tinggi. Ini tentu menjadi momentum bagi alga untuk tumbuh lebih cepat, sampai kadarnya bisa tidak terkendali atau yang disebut dengan blooming algae.
Hal yang ditakutkan dari blooming alga adalah ketika terjadi crash atau kematian massal. Saat itu terjadi, maka akan memicu penguraian secara ekstrem yang butuh banyak oksigen.
Selain oksigen turun drastis, amonia juga meningkat yang merupakan produk sampingan dari proses dekomposisi.
Untuk mengatasinya, cukup lakukan siphon dasar secara rutin terutama saat tambak mengalami blooming algae.
5. Pencegahan Penyakit
Air yang hangat dengan salinitas tinggi termasuk yang paling disukai bakteri Vibrio. Dengan begitu, musim kemarau juga meningkatkan risiko infeksi penyakit pada udang.
Untuk menjaga udang tetap sehat selama kemarau, petambak bisa meningkatkan dosis atau frekuensi pemberian probiotik demi menekan populasi Vibrio, sehingga ia tidak bisa menginfeksi udang.
Baca Juga




Komentar