5 Parameter Air Tambak akan Berfluktuasi Saat Kemarau
- Redaktur: Audri Rianto
- 4 jam yang lalu
- 3 menit membaca
Musim kemarau di tahun 2026 ini akan terjadi lebih lama, pasalnya Indonesia saat ini tengah dilanda fenomena bernama El Nino Godzilla. Akibat fenomena ini, suhu udara meningkat cukup drastis serta hampir tidak ada hujan dalam waktu lama.

Sumber: golden-corp.com
Cuaca seperti ini sangat ditakuti petambak, karena secara langsung dapat menurunkan kualitas air. Saat suhu udara terlalu tinggi, maka akan ada beberapa parameter air tambak yang mengalami ketidakstabilan. Berikut ini beberapa parameter yang dimaksud.
1. Salinitas (Meningkat Tajam)
Parameter pertama yang akan mengalami lonjakan yang cukup tinggi adalah kadar salinitas air tambak. Ini mungkin terjadi karena suhu yang ekstrem membuat air mengalami penguapan yang intens.
Ketika air tambak menguap, maka kadar garam di dalam air menjadi pekat, artinya salinitas menjadi tinggi sekali. Kita tahu udang makhluk yang sangat butuh salinitas, tapi jika kadarnya sudah terlalu tinggi tentu bisa mempengaruhi metabolisme tubuhnya, membuatnya stres dan bisa saja mati.
2. Ketinggian Air (Penurunan Fisik)
Penguapan air yang terjadi terus menerus membuat volume air di tambak menurun, sehingga ketinggian air juga akan berkurang jauh.
Ketinggian atau kedalaman air di tambak sangat penting untuk menjaga suhu dasar, jadi ketika kedalaman air berkurang, maka jarak antara permukaan dan dasar tambak akan semakin dekat, membuat area dasar tambak menjadi lebih cepat panas.
Ini tidak bisa dibiarkan, karena udang cenderung berkumpul di dasar tambak. Ketika suhu di area tersebut sama panasnya dengan di permukaan, maka ini sama saja dengan mempersempit ruang gerak mereka. Mau ke permukaan salah, di dasar juga salah, akibatnya udang akan rentan stres.
3. Oksigen Terlarut
Saat air tambak mengalami peningkatan suhu berkepanjangan, maka kemampuannya mengikat oksigen juga akan terus menurun. Ini sangat membahayakan udang, karena mereka bisa mengalami hipoksia terutama di malam hari, di saat semua organisme tambak membutuhkan oksigen untuk respirasi.
4. Fluktuasi Suhu yang Ekstrem
Ketika kemarau tiba, perbedaan suhu antara siang dan malam menjadi sangat lebar. Saat siang suhu terlalu panas dan saat malam suhu bisa menjadi terlalu dingin. Perbedaan suhu yang terlalu jauh bisa menurunkan imunitas udang, akibatnya udang jadi rentan terinfeksi penyakit.
5. pH dan Alkalinitas
Saat suhu meningkat, air akan menguap namun tidak dengan mineral yang ada di dalamnya. Dengan kondisi itu, kadar mineral akan tetap sama hanya saja menjadi lebih pekat. Kepekatan mineral ini sangat mempengaruhi pH air yang akan cenderung mengalami fluktuasi.
Ketika itu terjadi, maka dampaknya pada udang tidak main-main. Risiko paling dasarnya udang akan mengalami stres dan akan mudah terserang penyakit.
Langkah Manajemen Tambak di Musim Kemarau
Untuk membuat tambak terus produktif di musim kemarau, petambak bisa melakukan langkah pencegahan yang terukur, seperti:
Pengaturan Debit Air
Saat kemarau, debit air rentan mengalami penurunan akibat penguapan. Untuk menjaganya agar terus stabil, petambak bisa menambahkan air tawar secara berkala demi mempertahankan ketinggian air di kisaran 100-120 cm. Selain menjaga suhu dasar tambak tetap stabil, menambahkan air tawar juga baik untuk mengencerkan salinitas dan mineral.
Optimalisasi Aerasi
Air yang tinggi suhunya menjadi sulit mengikat oksigen, jadi cara mengatasinya adalah dengan meningkatkan kinerja kincir. Biarkan kincir terus bekerja untuk menyuplai oksigen dan mengaduk air supaya oksigen bisa terus tersedia dalam jumlah yang cukup.
Aplikasi Probiotik Rutin
Probiotik sangat dibutuhkan ketika musim kemarau, karena saat suhu air meningkat biasanya akan diikuti dengan meningkatnya pertumbuhan bakteri patogen karena kebanyakan mereka suka air dengan suhu hangat. Probiotik akan menekan pertumbuhan mereka, sehingga udang akan lebih aman dan tidak mudah sakit.
Baca Juga




Komentar