top of page

Pengaruh Suhu Tinggi Saat Kemarau terhadap Produktivitas Udang Vaname

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 14 jam yang lalu
  • 2 menit membaca

Saat memasuki musim kemarau, maka suhu udara akan naik drastis. Suhu yang meningkat sering membuat ekosistem tambak udang mengalami perubahan, terutama pada suhu airnya. Udang vaname sendiri termasuk hewan berdarah dingin, artinya laju metabolisme tubuhnya bergantung sama suhu lingkungan.


 

Apa jadinya jika suhu lingkungan meningkat drastis melebihi suhu optimal untuk ia hidup? Berikut pengaruh yang ditimbulkan dari suhu lingkungan yang terlalu tinggi.

 

1. Peningkatan Laju Metabolisme dan Konsumsi Oksigen

Udang vaname bisa hidup optimal di suhu lingkungan maksimal 32°C. Ketika suhu meningkat lebih dari kadar idealnya, maka udang bisa mengalami lonjakan metabolisme sementara sebagai bentuk adaptasi.

 

Kondisi itu membuat udang butuh lebih banyak oksigen, sayangnya kebutuhannya malah tidak bisa terpenuhi karena air dengan suhu tinggi cenderung sulit mengikat oksigen dan bisa membuat udang hipoksia. Saat udang kekurangan oksigen, maka ia bisa mengalami stres yang berujung pada kematian.

 

2. Penurunan Efisiensi Pakan (FCR)

Metabolisme yang mendadak naik akan diikuti dengan meningkatnya nafsu makan. Udang jadi banyak makan, namun penyerapan nutrisinya justru menurun. Energi yang didapat dari makanan lebih banyak digunakan untuk melakukan osmoregulasi, supaya cairan dalam tubuhnya bisa seimbang.

 

Efeknya, FCR (Feed Conversion Ratio) jadi membengkak, biaya yang dikeluarkan untuk pakan jadi lebih tinggi, namun pertumbuhannya stagnan, tidak mau besar. Ini tentu menjadi jalan pembuka bagi petambak untuk mengalami kerugian.

 

3. Penurunan Kualitas Air

Suhu tinggi dengan intensitas cahaya matahari yang tinggi bisa memicu alga tumbuh tidak terkendali sampai hampir seluruh permukaan air didominasi oleh alga (blooming algae). Risiko penurunan kualitas air menjadi tinggi jika tambak mengalami blooming algae, karena alga-alga ini bisa mati massal kapan saja.

 

Bangkai alga nantinya akan mengalami dekomposisi yang menghabiskan oksigen serta menghasilkan racun berupa amonia. Kita tahu bahwa amonia sangat beracun untuk udang, untuk itu kadarnya di tambak sebisa mungkin harus dijaga tetap nol.

 

4. Kerentanan terhadap Penyakit

Lingkungan tambak yang sudah tidak stabil akibat suhu tinggi lambat laun akan melemahkan sistem imun udang. Bakteri Vibrio sangat suka kondisi ini, karena ia akan dengan mudah menginfeksi udang, menyebabkan beberapa penyakit mematikan seperti WSSV (White Spot Syndrome Virus) yang dikenal gampang menular dan mematikan.

 

5. Gangguan Pertumbuhan dan Molting

Suhu tinggi membuat udang stres yang kemudian dapat mengganggu siklus moltingnya. Bahkan, udang biasanya akan molting dini, namun seringkali cangkang barunya tidak terbentuk sempurna sehingga sangat rentan mati.

 

Strategi Mitigasi

Untuk membuat udang tetap produktif dan sehat ketika kemarau ekstrem tiba, petambak bisa melakukan beberapa langkah di bawah ini.


  • Peninggian Level Air 

Kontrol kedalaman air, pastikan terus berada di kedalaman 1,2 – 1,5 meter supaya panas tidak mudah merambat sampai ke dasar tambak, tidak langsung mengenai udang.

  • Optimasi Aerasi

Kincir atau aerator harus dihidupkan lebih lama dari biasanya, apalagi saat siang hari di mana panas berada pada kadar maksimalnya. Selain memecah panas, aerator juga akan terus memasok oksigen ke dalam air demi menghindari hipoksia.

  • Manajemen Pakan 

Dosis pakan sebaiknya ditahan atau dikurangi, selain untuk mengontrol nilai FCR, cara ini juga dilakukan untuk mencegah penumpukan limbah organik semakin banyak.

  • Aplikasi Probiotik

Rutin memberikan probiotik untuk menekan pertumbuhan bakteri patogen dan membantu mengurai limbah di dasar tambak.



Baca Juga

 

bottom of page