Daerah Penghasil Udang Windu di Indonesia yang Masih Aktif
- Redaktur: Audri Rianto
- 9 Jun
- 2 menit membaca
Masa jaya udang windu di Indonesia sudah habis digeser oleh udang vaname. Runtuhnya masa jaya udang windu berawal dari wabah Spot Syndrome Virus (WSSV) di pertengahan 1990-an yang membuat banyak petambak gagal panen karena udangnya mati massal.
Karena dianggap tidak tahan penyakit, petambak mulai berhenti membudidayakannya, hingga di awal tahun 2000-an KKP memperkenalkan spesies udang baru bernama udang vaname yang lebih tahan penyakit, terutama terhadap Spot Syndrome Virus (WSSV).

Sumber: unair.ac.id
Meski saat ini hampir semua petambak sudah beralih dari udang windu ke vaname, bukan berarti udang windu sudah kehilangan peminat. Ada beberapa daerah di Indonesia yang sampai saat ini masih membudidayakan udang windu dan rutin mengekspornya ke luar negeri.
Kalimantan Timur
Bisa dibilang, Kalimantan Timur adalah daerah yang sangat getol memperdagangkan udang windu, baik di pasar domestik maupun internasional.
Menurut data dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Timur, hingga Juli 2025 daerah ini sudah mengekspor udang windu senilai Rp164,4 miliar.
Nilai tersebut setara dengan 64 persen dari total nilai ekspor perikanan provinsi tersebut. Bahkan, di tahun 2024 saja nilai ekspor udang windu lebih gila lagi, yaitu mencapai Rp267,1 miliar.
Dengan nilai ekspor sebesar itu menunjukkan bahwa udang windu dari Kaltim ini punya kualitas yang tidak main-main, artinya produk yang diekspor telah memenuhi standar pasar internasional dengan baik.
Aceh Timur
Wilayah Aceh, tepatnya di Aceh Timur juga masih gencar membudidayakan udang windu. Di sana, udang windu masih termasuk komoditas unggulan tambak rakyat, baik itu tambak tradisional maupun tambak semi-intensif.
Meskipun data ekspor secara spesifik tidak dipublikasikan, tapi keberadaan ribuan hektare tambak aktif menunjukkan bahwa daerah tersebut termasuk sentra produksi udang windu nasional.
Umumnya, produk dari Aceh akan masuk ke rantai perdagangan ekspor yang ditujukan ke negara-negara Asia Timur.
Sulawesi Selatan
Kabupaten Pinrang termasuk wilayah yang masih mempertahankan budidaya udang windu. Hal yang membuat mereka bertahan adalah harganya yang lebih tinggi dibandingkan dengan udang vaname.
Umumnya, petambak udang windu di daerah ini masih mengandalkan sistem tradisional dan semi intensif, sehingga produksinya tidak bisa sebesar udang vaname. Meski begitu, nilai ekonominya tetap kompetitif, karena mereka langsung menjualnya ke pasar internasional.
Kalimantan Utara
Kalimantan Utara sampai saat ini masih tercatat sebagai salah satu daerah penghasil udang windu dan aktif mengekspornya, meskipun volumenya tidak sebanyak masa jayanya dulu. Permintaan udang windu Kaltara umumnya dari negara-negara Asia, seperti Jepang dan Malaysia
Prospek Udang Windu Indonesia
Secara nasional, volume produksi udang windu kalah jauh dibandingkan udang vaname, namun tetap memiliki posisi strategis. Udang windu saat ini lebih menyasar pasar premium dengan nilai jual lebih tinggi.
Apalagi saat ini perhatian dunia terhadap produk perikanan berkualitas tinggi, ramah lingkungan serta berkelanjutan terus meningkat, maka potensi udang windu untuk kembali menjadi salah satu komoditas unggulan ekspor bisa saja meningkat beberapa tahun mendatang.
Baca Juga




Komentar