Peralihan dari Udang Windu ke Vaname: FCR Rendah Salah Satu Pemicunya
- Redaktur: Audri Rianto
- 1 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Peralihan dari udang windu ke udang vaname memang dipicu dari wabah penyakit White Spot Syndrome Virus (WSSV). Udang windu dianggap gagal bertahan dari terpaan penyakit itu, sampai-sampai banyak petambak di Indonesia mengalami gagal panen dan merugi.
Udang vaname punya kelebihan berupa imunitas yang lebih kuat dibandingkan udang windu, membuat hampir semua petambak di Indonesia beralih membudidayakannya.
Selain karena lebih tahan penyakit, ternyata ada kelebihan udang vaname yang membuat petambak semakin terpikat. Udang vaname dikenal memiliki nilai Feed Conversion Ratio (FCR) yang lebih rendah dibandingkan dengan udang windu.

Sumber: moneycontrol.com
Nilai FCR yang rendah berarti serapan pakan menjadi daging dianggap efektif, sehingga tidak terjadi pemborosan. Ini sangat baik untuk petambak guna menekan biaya operasional.
Apa yang membuat FCR udang vaname lebih baik dari udang windu? Berikut ini alasan teknisnya.
Sifat Makan dan Keaktifan Udang
Dari sifatnya dalam mengonsumsi pakan dan pergerakannya, udang vaname jauh lebih unggul dari udang windu. Udang vaname lebih aktif bergerak di seluruh kolom air, sementara udang windu lebih sering berada di dasar kolam.
Keaktifannya ini ternyata berhubungan dengan responnya terhadap pakan yang diberikan. Ketika pakan ditebar, udang vaname akan aktif bergerak mengejar pakan dengan cepat, sehingga pakan yang diberikan lebih banyak dimakan.
Udang windu sangat berbeda, responnya dalam mencari makan cenderung lambat, membuat pakan lebih berisiko terbuang atau menjadi endapan di dasar tambak.
Toleransi Stres Lebih Baik
Udang vaname lebih tahan stres dibandingkan udang windu, terbukti ia bisa dibudidayakan dengan kepadatan tebar yang tinggi. Dengan ruang gerak yang terbatas, tidak membuat nafsu makan udang vaname menurun. Saat pakan diberikan, mereka tetap responsif mengejar pakan.
Hal ini tidak terjadi pada udang windu, ketika dibudidayakan di kolam yang padat ia akan mudah stres, membuat nafsu makannya turun dan meningkatkan nilai FCR.
Siklus Molting dan Pertumbuhan
Metabolisme udang vaname lebih cepat, membuat siklus moltingnya lebih teratur. Setiap selesai molting, pembesaran tubuhnya terjadi lebih efisien, karena memanfaatkan nutrisi pakan dengan baik.
Berbeda dengan udang windu, meskipun ukurannya lebih besar dari udang vaname, namun ia butuh waktu lebih lama untuk tumbuh. Untuk mencapai ukuran yang diinginkan, petambak harus melakukan akumulasi pakan yang lebih banyak.
Catatan
Secara teori memang udang vaname lebih unggul dalam FCR, namun itu semua tentu bergantung pada manajemen pemberian pakan yang dilakukan petambak.
Jika petambak melakukan overfeeding pada udang vaname, tentu nilai FCR-nya bisa menjadi sangat tinggi. Begitu juga dengan udang windu, jika manajemen pakan yang dilakukan petambak diatur dengan baik, maka nilai FCR-nya bisa lebih baik bahkan menyamai udang vaname.
Baca Juga




Komentar