top of page

Negara yang Menjadi Tujuan Utama Ekspor Udang Indonesia

Redaktur: Audri Rianto
1 jam yang lalu
2 menit membaca

Sampai saat ini, udang masih menjadi produk ekspor andalan di sektor perikanan Indonesia. Dari data yang dimiliki oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), udang sendiri memiliki kontribusi terbesar terhadap nilai total ekspor perikanan nasional, yaitu senilai USD 1,63 miliar per tahun.


 

Mengingat perannya sangat krusial terhadap devisa negara, maka dinamika yang ada di pasar udang global tentu langsung mempengaruhi perekonomian perikanan nasional secara keseluruhan.

 

Dengan nilai sebanyak itu, negara mana sajakah yang menjadi tujuan ekspor utama udang Indonesia?

 

1. Amerika Serikat Sebagai Pasar Utama

Selama ini, Amerika Serikat (AS) masih menjadi pasar utama bagi ekspor udang Indonesia. AS sendiri memegang porsi paling besar sebagai negara penyerap produk mayoritas udang dari Indonesia.

 

Meski sudah biasa mengekspor udang ke AS, nyatanya di semester awal tahun 2026 Indonesia sempat menghadapi tekanan kompetisi global yang cukup ketat.

 

Secara kumulatif dari Januari sampai Mei 2026, Indonesia hanya berhasil mengekspor udang sebanyak 46.660 ton, 23% lebih sedikit dari tahun sebelumnya.

 

Meski mengalami penurunan volume akibat persaingan yang ketat, nyatanya AS masih tetap menjadi pilar utama yang menopang lebih dari separuh total distribusi ekspor udang nasional.

 

2. Jepang dengan Permintaan yang Relatif Stabil

Jepang termasuk negara mitra yang strategis untuk produk udang olahan bernilai tambah tinggi. Fluktuasi permintaan dari Jepang juga terbilang lebih aman dibandingkan dengan AS, karena penurunannya tidak lebih besar.

 

Jika diakumulasikan dari Januari sampai Mei 2026, total pengiriman ke Jepang sebesar 11.981 ton  dengan total penurunan sebesar -10%.

 

3. Uni Eropa, Pasar Premium dengan Standar Super Ketat

Uni Eropa memang dikenal sebagai pasar dengan standar yang super ketat dan sedikit sulit ditembus. Sepanjang 2026, ekspor udang ke Uni Eropa menurun cukup drastis. Nilai kumulatif di lima bulan pertama tahun 2026 berada di angka 2.462 ton, merosot -40%.

 

Hal yang menjadi hambatan utama adalah standarisasi keamanan pangan yang sangat ketat, termasuk kewajiban sertifikasi internasional yang rumit.

 

4. Cina, Pasar Penyelamat dengan Lonjakan Pertumbuhan Signifikan

Di tengah penurunan permintaan dari pasar Barat, Cina justru menjadi penyelamat. Permintaan udang dari Cina cukup melonjak tinggi. Secara kumulatif dari Januari sampai Mei 2026, permintaan udang dari sana melonjak hingga 53% dengan bobot total mencapai 6.826 ton.

 

Pasar Cina juga dinilai cukup fleksibel, karena mereka tidak mengharuskan ada sertifikasi seperti yang diminta Uni Eropa. Selain itu, Cina juga cukup terbuka terhadap ukuran udang, mulai dari size 20-100 siap ditampung. Hal-hal semacam ini yang justru menjadi peluang emas bagi Indonesia dan sudah sepantasnya untuk diprioritaskan.



Baca Juga

Komentar


bottom of page