top of page

Mengapa Budidaya Udang Dianggap Bisnis Menjanjikan? Ini 4 Alasannya

Redaktur: Audri Rianto
2 jam yang lalu
2 menit membaca

Budidaya udang saat ini menjadi salah satu peluang usaha di sektor perikanan yang menjanjikan. Pandangan ini tentu tidak terlepas dari permintaan pasar yang semakin luas, nilai jual yang kompetitif dan menawarkan margin keuntungan yang besar.

 


Indonesia sendiri dikenal sebagai negara yang rutin mengekspor udangnya ke berbagai negara. Menurut data dari Shrimp Insights, Indonesia sendiri rutin memasok udang ke pasar global sebanyak 201.113 ton sepanjang tahun.

 

Pada tahun 2026 ini, peluang bisnis ekspor udang Indonesia dinilai semakin terbuka lebar untuk investor maupun petambak lokal. Meski begitu, untuk mendapat keuntungan yang maksimal tetap bergantung pada kemampuan pembudidaya dalam mengelola tambaknya, mengatur manajemen biaya, kualitas air hingga pengendalian risiko.

 

Dikutip dari jala.tech, selain karena permintaan udang yang terus meningkat setiap tahun, ada 4 alasan lain yang membuat budidaya udang dipandang sebagai bisnis yang menjanjikan.

 

1. Program Revitalisasi yang Didukung Pemerintah

Pemerintah memberikan dukungan terhadap program revitalisasi tambak udang vaname. Dukungan tersebut dicetuskan melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan sasaran program adalah tambak-tambak udang tradisional yang dianggap mangkrak atau tidak memproduksi lagi.

 

Program ini berfokus pada budidaya berbasis ekonomi biru, artinya modernisasi sistem tambak dan peningkatan produktivitas tetap memperhatikan keamanan dan keberlanjutan lingkungan.

 

2. Permintaan Ekspor dan Konsumsi Domestik Meningkat

Dukungan pemerintah terhadap peningkatan ekspor udang tentu punya landasan jelas. Hal ini didasarkan pada tren permintaan ekspor yang terus meningkat setiap tahunnya. Selama ini, pasar utama untuk udang Indonesia adalah Amerika Serikat yang permintaannya selalu meningkat setiap tahunnya.

 

Namun, mulai tahun 2025 tren peningkatan juga datang dari negara lainnya, seperti Jepang yang meningkat +6%, Cina meningkat +27% dan Uni Eropa meningkat +41%. Selain dari permintaan ekspor, tren konsumsi udang di pasar domestik juga ikut meningkat, sehingga produksi udang nasional terus digenjot untuk bisa memenuhi permintaan tersebut.

 

3. Potensi keuntungan tinggi dari harga udang vaname

Harga udang memang cukup fluktuatif karena dipengaruhi oleh volume produksi dan permintaan pasar. Namun, fluktuatif yang terjadi masih dinilai cukup potensial untuk para petambak, karena penurunan yang terjadi tidak terlalu drastis.

 

Harga udang yang kompetitif ini akhirnya menjadi jaminan bagi para petambak untuk mendapatkan keuntungan di setiap siklus panen. Selama manajemen yang dilakukan petambak sudah sesuai, maka keuntungan sudah pasti akan didapat.

 

4. Optimalisasi Lahan Tambak yang Belum Produktif

Indonesia sendiri masih memiliki banyak area tambak yang dianggap belum dimanfaatkan secara maksimal. Tambak-tambak yang tidak optimal ini punya potensi besar untuk diubah menjadi tambak udang yang lebih produktif.

 

Hal ini tentu menjadi kesempatan bagi para pelaku usaha baru untuk memulai bisnis budidaya udang tanpa harus membangun infrastruktur dari nol. Dengan begitu, biaya yang dikeluarkan tidak akan terlalu besar.

 

Namun, untuk memanfaatkan lahan ini pelaku usaha tidak boleh sembarangan. Ada hal-hal yang harus diperhatikan, mulai dari standar kualitas lingkungan, kepatuhan tata ruang hingga teknis budidaya berkelanjutan.



Baca Juga

Komentar


bottom of page