Silvofishery, Cara Budidaya Produktif Sekaligus Melestarikan Mangrove
Saat ini hutan mangrove memang semakin sedikit jumlahnya. Pengurangan kawasan mangrove di daerah pesisir saat ini disinyalir karena semakin masifnya pembangunan tambak udang.

Sumber: lindungihutan.com
Untuk mempertahankan kawasan mangrove yang masih tersisa, ada satu pendekatan budidaya yang bisa diterapkan oleh petambak, terutama yang ada di daerah pesisir. Sistem budidaya yang dimaksud adalah silvofishery atau wanamina.
Silvofishery adalah sistem budidaya perikanan yang menggabungkan kegiatan produksi dengan pelestarian lingkungan, dalam hal ini ialah menggabungkan tambak udang dengan hutan mangrove di dalam satu kawasan.
Sistem budidaya ini diharapkan dapat menjaga produktivitas tambak sekaligus mempertahankan fungsi ekologis mangrove.
Apa Itu Silvofishery?
Silvofishery sendiri merupakan proses pengelolaan lahan pesisir dengan cara menyatukan ekosistem mangrove dengan kegiatan budidaya udang. Jika tambak konvensional lebih mengutamakan area produksi, sistem ini dibuat dengan menyediakan ruang bagi vegetasi mangrove untuk tetap tumbuh.
Cara penerapannya bisa dilakukan dengan mempertahankan mangrove di daerah tertentu, baik itu di dalam tambak maupun ditempatkan di titik yang berdampingan dengan petak budidaya. Model yang paling populer dari sistem ini adalah empang parit, di mana vegetasi mangrove diletakkan di tengah dan dikelilingi oleh tambak.
Model silvofishery sebenarnya bisa disesuaikan dengan kondisi lahan, kebutuhan komoditas dan pasang surut air laut. Hal yang terpenting dari sistem ini adalah menjaga vegetasi mangrove terus tumbuh meskipun kegiatan budidaya dilakukan di sekitarnya.
Manfaat Silvofishery bagi Produktivitas Tambak
Manfaat utama dari menerapkan silvofishery adalah untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan lingkungan. Dengan adanya vegetasi mangrove di sekitar tambak, maka ekosistem sekitar akan terus terjaga kondisinya.
Akar mangrove bermanfaat dalam membantu menahan sedimen dan mengurangi risiko erosi pantai. Mangrove juga menjadi tempat organisme perairan berkumpul, termasuk biota yang mendukung rantai makan alami bagi udang.
Tidak hanya itu, keberadaan mangrove di sekitar kawasan tambak juga dapat membantu menyerap karbon berlebih, membuat tambak berada dalam kondisi yang kondusif untuk pertumbuhan udang.
Adanya vegetasi mangrove di sekitar tambak juga membantu melindungi tambak dari risiko abrasi. Namun, petambak perlu mengingat bahwa adanya mangrove tidak secara otomatis meningkatkan hasil panen, karena produktivitas tambak hanya bisa dimaksimalkan melalui pengelolaan budidaya yang tepat.
Cara Menerapkan Silvofishery di Tambak
Untuk bisa menerapkan silvofishery, banyak yang harus dipersiapkan. Pertama, petambak harus mengevaluasi kondisi lahan, mulai dari karakteristik tanah, pasang surut, sumber air hingga keberadaan mangrove yang masih tersisa di kawasan tersebut.
Selanjutnya, petambak harus mengatur pembagian area mangrove dan area produksi. Proporsi keduanya tidak harus berimbang, karena ini sangat bergantung dengan desain tambak dan karakteristik lingkungan.
Pengelolaan tambak harus dilakukan dengan maksimal, mulai dari pengelolaan pakan, pemantauan kualitas air dan pengaturan kepadatan tebar. Pastikan juga limbah dan kotoran udang tidak mencemari kawasan mangrove supaya kegiatan produksi dan pemulihan ekosistem bisa berjalan beriringan.
Baca Juga




Komentar