top of page

Manajemen Kualitas Air Untuk Tambak Udang Intensif

Redaktur: Audri Rianto
1 hari yang lalu
2 menit membaca

Untuk mengejar produktivitas tinggi guna memenuhi permintaan pasar, banyak petambak saat ini mengadopsi budidaya udang sistem intensif. Dengan padat tebar tinggi, maka tambak intensif sangat bergantung pada manajemen kualitas air yang ketat.


 

Manajemen kualitas air yang baik berarti mengupayakan parameter fisik, kimia dan biologis air tetap berada di kisaran optimalnya. Hal ini penting dilakukan supaya udang tidak gampang stres sehingga pertumbuhannya bisa berjalan optimal. Oleh karena itu, mari pahami parameter apa saja yang harus dijaga dan bagaimana langkah pengelolaannya yang tepat.

 

Parameter Kualitas Air yang Wajib Dipantau

Tambak intensif tentu berpotensi menghasilkan sisa pakan dan kotoran udang dengan sangat cepat. Produksi limbah yang melimpah ini harus dibarengi dengan pemantauan parameter air secara rutin. Berikut beberapa parameter yang harus terus berada dalam radar pengawasan.

 

  • Oksigen Terlarut: Oksigen merupakan sumber kehidupan di tambak udang, untuk itu kadarnya harus dipertahankan di atas 4 ppm, terlebih lagi pada tambak intensif. Tambak dengan padat tebar tinggi tentu punya laju pernapasan yang tinggi, jadi oksigen harus terus stabil untuk mencegah stres.

 

  • Suhu Air yang Stabil: Suhu air sangat mempengaruhi metabolisme udang, maka dari itu pastikan suhu air terus berada di angka 26–30°C. Udang juga termasuk rentan terhadap fluktuasi cuaca. Apabila perubahan suhu terjadi lebih dari 2°C dalam waktu singkat, maka itu bisa membahayakan kesehatannya.

 

  • Derajat Keasaman (pH): pH yang stabil sangat dibutuhkan udang untuk molting. pH yang ideal agar molting udang bisa berjalan dengan baik adlaah 7,5 hingga 8,5. Fluktuasi pH harian wajar terjadi, hanya saja petambak harus memastikan bahwa fluktuasi tidak lebih dari 0,4–0,5.

 

  • Salinitas (Kadar Garam): Untuk mendukung osmoregulasi udang vaname, maka kadar garam atau salinitas air sebaiknya berada pada rentang 10–30 ppt. Di bawah angka itu, maka udang akan mudah stres.

 

  • Amonia dan Nitrit: Tambak intensif rawan akan penumpukan limbah organik, artinya gas beracun sangat rawan muncul. Baik amonia maupun nitrit, sebaiknya berada Penumpukan di bawah 0,1 ppm dan 1 ppm agar tidak meracuni ekosistem.

 

 

Langkah Cerdas Pengelolaan Kualitas Air Tambak Intensif

Agar semua parameter di atas tetap dalam kondisi ideal selama siklus budidaya, maka petambak harus menerapkan langkah-langkah manejemen yang baik.


1. Pengoperasian Kincir Air Secara Maksimal

Kincir air tidak boleh mati, maka dari itu nyalakan secara kontinu terutama di malam hingga dini hari, karena pada waktu tersebut CO₂ rentan meningkat dan oksigen rentan menurun.


Di sini, peran kincir air tidak hanya menyuplai oksigen, tapi secara mekanis juga membantu menggerakkan kotoran organik ke area pembuangan (tengah kolam), membuat area pergerakan udang tetap bersih.

 

2. Aplikasi Probiotik dan Dolomit Secara Rutin

Tambak intensif akan mengalami penguraian bahan organik secara masif. Supaya berjalan optimal, bakteri pengurai butuh bantuan probiotik. Selain membantu mengurai limbah organik, probiotik juga mampu menekan pertumbuhan bakteri Vibrio sp.

 

Selain probiotik, mengaplikasikan dolomit ke dalam tambak juga diperlukan untuk menjaga alkalinitas air. Guna alkalinitas ialah sebagai buffer bagi pH agar tidak mudah anjlok di keadaan-keadaan tertentu, contohnya setelah hujan lebat.

 

3. Siphon Dasar Tambak dan Pergantian Air

Penyiphonan perlu dilakukan dengan rutin untuk membuang endapan lumpur dan kotoran dari dasar tambak. Penyiphonan terjadwal membantu mengurangi sumber produksi gas beracun dalam tambak.

 

Penyiphonan juga harus diimbangi dengan pergantian air berkala, supaya beban Bahan Organik Terlarut (BOT) tetap berada di kisaran ideal.



Baca Juga

Komentar


bottom of page