top of page

Bahaya Penumpukan Karbon Dioksida pada Tambak Udang Intensif

Redaktur: Audri Rianto
1 hari yang lalu
2 menit membaca

Sistem budidaya udang intensif saat ini kerap menjadi pilihan utama banyak petambak. Alasan mereka mengadopsi sistem budidaya intensif ialah demi mendongkrak hasil panen, mengingat permintaan udang semakin tahun semakin tinggi, terutama dari pasar global.


 

Budidaya udang sistem intensif memang memberikan potensi keuntungan tinggi, namun sistem ini juga menuntut manajemen kualitas air yang ketat. Pasalnya, sistem budidaya intensif ini rawan mengalami penumpukan karbon dioksida (CO₂).

 

Penumpukan CO₂ di dalam tambak tidak hanya dapat menurunkan kualitas air, tapi juga bisa memicu stres fisiologis bagi udang yang berpotensi menyebabkan kematian massal.

 

Mengapa Penumpukan CO2 Sangat Berbahaya bagi Udang?

Kadar CO₂ yang tinggi di dalam tambak bisa memicu efek domino yang mematikan. Berikut ini beberapa hal yang akan terjadi ketika tambak kelebihan CO₂.


1. Penurunan pH Air (Asidifikasi) 

CO₂ yang larut dalam air secara berlebihan akan membentuk asam karbonat. Reaksi kimia yang terjadi membuat air tambak menjadi asam, artinya pH air akan anjlok. Jika pH air turun terlalu ekstrem tentu akan mengganggu kenyamanan hidup udang di dalam tambak, biasanya proses molting akan mengalami gangguan.

 

2. Gagal Napas 

Sama seperti makhluk hidup lainnya, ketika lingkungan penuh dengan CO₂, maka pernapasannya akan terganggu. CO₂ yang terlalu tinggi di dalam tambak akan menghambat pigmen darah udang mengikat oksigen dan berujung pada hipoksia.

 

Meskipun aerasi tetap berjalan, udang tetap akan kekurangan oksigen internal yang mengakibatkan udang menjaid lemas, berenang tidak beraturan dan stres akut.

 

3. Penurunan Nafsu Makan Drastis 

Ketika tingkat stres udang sudah sangat tinggi akibat lingkungan yang tidak kondusif, maka secara otomatis nafsu makannya juga hilang. Pakan akan lebih banyak terbuang daripada termakan, pertumbuhan udang cenderung stagnan dan angkat Feed Conversion Ratio (FCR) membengkak. Jika sudah seperti ini, petambak sudah berada di ambang kerugian.

 

4. Risiko Kematian Mendadak di Malam Hari 

Saat siang hari, kadar CO₂ yang tinggi masih bisa tertolong oleh proses fotosintesis yang dilakukan fitoplankton. Mereka akan membantu menyerap CO₂ untuk berfotosintesis dan merubahnya menjadi oksigen.

 

Namun, proses ini akan terhenti di malam hari dan membuat CO₂ kembali menumpuk dan melonjak secara drastis di dalam tambak. Kondisi seperti ini seringkali menjadi penyebab kematian udang secara mendadak.

 

Penyebab Utama Melonjaknya CO₂ di Tambak Intensif

Ada tiga sumber masalah yang berpotensi menyebabkan CO₂ di tambak intensif melonjak pesat.

 

  • Padat Tebar Terlalu Tinggi: Sistem memang mengandalkan padat tebar super tinggi untuk mendapatkan hasil panen melimpah. Namun, sistem ini seringkali memaksa ribuan udang hidup di area terbatas. Tingkat populasi yang padat di ruang sempit membuat laju pernapasan (respirasi) di dalam tambak menjadi sangat tinggi.

 

  • Penumpukan Limbah Organik: Padat tebar tinggi berarti kotoran yang dihasilkan juga akan sangat tinggi. Kotoran ini tentunya akan menumpuk di dasar tambak bersama dengan sisa pakan. Ketika proses penguraian terjadi, bakteri juga turut menghasilkan CO₂. Semakin banyak limbah yang diuraikan, maka CO₂ yang dihasilkan juga semakin tinggi.

 

  • Blooming Fitoplankton: Tambak intensif juga rawan mengalami ledakan alga (blooming algae). Populasi alga yang tidak terkendali membuat persaingan oksigen dan produksi CO₂ semakin tinggi di malam hari. Akibatnya fluktuasi kualitas air menjadi semakin tak terkendali.



Baca Juga

 

Komentar


bottom of page