Manfaat Green Belt Untuk Budidaya Udang Jangka Panjang
Memulai usaha budidaya udang, kita tidak bisa hanya membicarakan modal dan keuntungan. Aspek lingkungan juga sebaiknya menjadi perhatian, karena lingkungan yang terjaga adalah kunci dari keberhasilan budidaya dalam jangka panjang.

Sumber: lampungpro.co
Tambak sendiri identik dibangun di daerah pesisir yang mana rawan sekali mengalami abrasi dan erosi. Pemerintah sendiri merekomendasikan kepada para petambak yang ada di pesisir untuk membangun tambaknya di sekitar green belt atau sabuk hijau.
Lantas, apa maksud dari green belt itu dan mengapa keberadaannya bisa membuat tambak udang beroperasi lebih lama? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.
Apa Itu Green Belt?
Green belt merupakan zona penyangga vegetasi alami, seperti hutan mangrove di sepanjang garis pantai. Menurut regulasi tata ruang pesisir, daerah ini tidak boleh dialihfungsikan menjadi petak tambak secara total. Salah satu fungsi keberadaannya ialah sebagai pembatas alami antara daratan dan laut lepas.
4 Manfaat Utama Green Belt untuk Tambak Udang
Membuat dampak berdekatan dengan area green belt merupakan langkah bijak untuk menciptakan budidaya udang berkelanjutan. Berikut ini beberapa manfaat green belt yang akan dirasakan oleh petambak.
1. Benteng Fisik dan Proteksi Alami
Daerah pesisir kerap kali mengalami perubahan cuaca yang cukup ekstrem. Makanya, tambak yang dibangun di daerah pesisir rawan sekali mengalami abrasi, erosi, terjangan angin kencang dan gelombang besar.
Membangun tambak di belakang green belt akan meminimalisir risiko tersebut. Green belt akan bertindak sebagai pelindung fisik tambak, sehingga infrastruktur tambak tidak mudah mengalami kerusakan.
2. Filter Air Alami
Akar mangrove yang ada di sekitar tambak bisa menjadi penyaring alami. Akar bakau mampu menyerap logam berat, zat beracun, hidrogen sulfida hingga meminimalisir sebaran patogen di dalam air. Limbah buangan tambak akan jadi lebih bersih sebelum kembali ke laut lepas.
3. Menjaga Keseimbangan Ekosistem Pesisir
Green belt atau sabuk hijau menjadi tempat hidup berbagai organisme akuatik. Ketika keanekaragaman hayati terjaga, maka ekosistem sekitar tambak akan jauh lebih stabil, artinya risiko ledakan populasi hama dan penyakit akan semakin rendah.
4. Mendukung Konsep Budidaya Keberlanjutan (Sustainability)
Pasar internasional sangat memperhatikan isu lingkungan. Menerapkan mangrove-shrimp farming (silvofishery) yang memadukan tambak dengan hutan bakau berpotensi meningkatkan nilai jual produk Anda. Tambak dengan sertifikasi ramah lingkungan memiliki peluang lebih besar untuk memasarkan produknya ke luar negeri.
Ketentuan dan Panduan Tata Letak Tambak yang Aman
Menerapkan silvofishery harus dilakukan dengan benar supaya aman dan berjalan sesuai dengan regulasi pemerintah.
Idealnya, petak tambak dibangun dengan jarak minimal 200 meter dari garis bibir pantai terluar. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjangan gelombang laut yang kuat.
Buatlah sistem tandon penyaringan yang terintegrasi dengan zona hijau. Gunanya untuk mengendapkan partikel berbahaya sebelum air dimasukkan ke dalam kolam budidaya.
Pemberian pakan harus dilakukan sesuai dengan kebutuhan demi mengurangi sisa pakan. Sebaiknya hindari penggunaan obat-obatan kimia dosis tinggi karena selain dapat menimbulkan residu, obat-obatan tersebut juga berpotensi merusak vegetasi green belt.
Batasi penggunaan air tanah dengan memanfaatkan air permukaan (air laut atau payau). Tujuannya ialah untuk mencegah terjadinya penurunan permukaan tanah di daerah pesisir.
Baca Juga




Komentar