5 Manfaat Utama Mangrove pada Tambak Udang Silvofishery
Saat ini, budidaya berkelanjutan sudah menjadi standar untuk menembus pasar global. Beberapa negara sangat mengutamakan produk yang diperoleh dari sistem budidaya ramah lingkungan.

Sumber: yokersane.com
Salah satu metode yang bisa diterapkan adalah dengan menggabungkan kegiatan budidaya dengan kelestarian lingkungan seperti sistem wanamina (silvofishery). Metode ini memungkinkan hutan mangrove dapat berdampingan dengan kawasan tambak udang.
Penerapan metode ini tidak hanya untuk menjaga lingkungan tetap asri, tetapi juga memberikan manfaat positif bagi tambak itu sendiri. Setidaknya ada 5 manfaat yang bisa dirasakan ketika menggabungkan hutan mangrove dengan tambak udang.
1. Biofilter dan Penyaring Limbah Alami
Tambak seringkali menghasilkan limbah organik seperti sisa pakan dan kotoran. Limbah ini seringkali memicu munculnya amonia, nitrit dan nitrat yang beracun bagi perairan sekitar. Adanya akar mangrove di sekitar tambak ternyata dapat menjadi biofilter yang akan menyerap polutan tersebut.
Studi juga mengungkapkan bahwa silvofishery terbukti efektif dalam menurunkan polutan air sebelum akhirnya air dialirkan kembali ke laut.
2. Sumber Pakan Alami yang Melimpah
Adanya vegetasi mangrove di sekitar tambak ternyata bisa menjadi sumber pakan alami untuk udang. Rontokan daun mangrove yang masuk ke tambak akan mengalami dekomposisi dan menghasilkan nutrisi.
Proses ini ternyata memicu plankton, detritus dan mikroorganisme untuk tumbuh. Keberadaan mikroorganisme ini sangat berguna sebagai pakan alami terutama untuk benur udang di awal fase pertumbuhan.
3. Stabilitas Suhu Air
Tambak konvensional rawan mengalami fluktuasi suhu di siang hari. Dengan adanya mangrove, petak tambak akan lebih terlindungi oleh kanopi dari rimbun daun pohon mangrove. Peneduh alami ini membuat suhu sekitar tambak lebih stabil, membuat udang tidak gampang stres akibat suhu ekstrem.
4. Area Perlindungan (Nursery Ground)
Akar mangrove yang saling menyilang di dalam air akan membentuk labirin alami. Ruang yang tercipta dari labirin alami ini bisa menjadi tempat berlindung untuk udang yang mengalami molting. Karena pada fase ini udang sangat rentan menjadi target kanibalisme.
5. Proteksi Fisik Infrastruktur Tambak
Pohon-pohon mangrove di sekitar tambak akan menjadi benteng alami bagi tambak. Akarnya dapat membantu mengikat sedimen tanah, mencegah tambak mengalami abrasi serta melindungi tanggul kolam dari gelombang tinggi.
Perbandingan Tambak Silvofishery dan Tambak Konvensional
Apabila dibandingkan dengan sistem tambak konvensional, silvofishery menawarkan berbagai keunggulan operasional dan ekologis yang signifikan.
Efisiensi Pakan: Tambak silvofishery punya tingkat ketergantungan pada pakan pabrikan yang lebih rendah dibandingkan dengan tambak konvensional. Pasalnya, vegetasi mangrove dapat menciptakan pakan alami untuk udang terutama pada fase awal pertumbuhan. Jadi, petambak bisa sedikit berhemat dalam mengeluarkan biaya pakan di awal fase budidaya.
Pengolahan Limbah: Dengan adanya fungsi biofilter dari akar mangrove, maka sistem pengelolaan limbah pada tambak silvofishery akan berlangsung secara otomatis. Berbeda dengan tambak konvensional yang harus menerapkan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang lebih kompleks dan memakan biaya.
Ketahanan Infrastruktur: Tambak silvofishery sangat kecil mengalami kerusakan tanggul akibat abrasi. Hal ini bisa terjadi berkat perlindungan dari sabuk hijau (green belt) yang ada di sekitaran tambak.
Kesehatan Udang: Udang pada tambak silvofishery akan jauh lebih sehat dan terhindar dari stres, karena lingkungannya lebih terjaga terutama dari fluktuasi suhu ekstrem di siang hari. Berbeda dengan tambak konvensional yang rentan mengalami kenaikan suhu di siang hari karena tidak ada teduhan alami.
Baca Juga




Komentar