top of page

Mengenal EHP: Ancaman Tersembunyi Penyebab Udang Vaname Kerdil

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 18 Mar
  • 2 menit membaca

Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) sudah lama menjadi momok menakutkan di dunia budidaya udang, hanya saja masih banyak petambak yang belum menyadarinya.



Memang, parasit ini tidak langsung menyebabkan kematian massal, sebab EHP ini bekerja secara perlahan. Meski kematian yang ditimbulkan terkesan perlahan, tetap saja kerugian yang ditimbulkan tidak bisa dianggap sebelah mata.

 

Untuk lebih jelasnya, kami akan membahas lebih detail mengenai EHP dan bagaimana cara mendeteksinya.

 

Apa Itu Penyakit EHP?

EHP sejatinya adalah parasit yang masuk ke dalam golongan microsporidia. Secara spesifik, parasit ini akan menyerang organ hepatopankreas pada udang.


Kasus serangan EHP pada udang pertama kali terdeteksi berada di Thailand pada tahun 2004, tepatnya pada udang windu. Semakin berkembang, saat ini udang vaname yang menjadi inang paling sering terdampak.

 

Gejala EHP pada Udang Vaname

Target utama dari parasit ini adalah hepatopankreas atau sistem pencernaan udang, sehingga tidak ada tanda-tanda fisik luar yang mencolok. Inilah yang sering membuat petambak tidak menyadarinya dari awal serangan.

 

Dari luar, udang yang terinfeksi bisa saja terlihat sehat tanpa gejala. Namun seiring berjalannya waktu, udang mulai mengalami hambatan dalam proses tumbuh kembangnya. Udang seakan tidak mau besar padahal dikasih makan cukup dan tepat waktu.

 

Dalam satu kolam, udang bisa saja punya ukuran yang berbeda-beda. Perbedaan ukuran ini akan terlihat mencolok yang menandakan infeksi sudah semakin parah.

 

Muncul infeksi baru seperti AHPND atau penyakit kotoran putih (WFD), karena parasit ini sering menjadi pintu utama untuk infeksi penyakit lanjutan.

 

Cara Penularan dan Bahaya Spora

EHP dikenal sangat menular, apabila terdeteksi ada udang yang mengalami infeksi sebaiknya dikeluarkan dari tambak. Jalan penularan utamanya ialah dari kotoran yang termakan oleh udang lain dan kanibalisme, ketika udang dengan ukuran lebih besar memakan udang kecil yang sudah terinfeksi.

 

Selain itu, udang bisa tertular dari hewan lain yang secara tidak sadar telah menjadi pembawa (carrier), seperti artemia dan cacing polychaeta, cacing yang sering dijadikan pakan indukan udang.

 

Langkah Pencegahan bagi Pembudidaya

Tidak hanya gampang menular, EHP juga termasuk yang sulit untuk diobati. Untuk itu, sebelum parasit ini menginfeksi, sebaiknya lakukan tindakan pencegahan. Dalam hal ini, biosekuriti sangat penting untuk diterapkan.

 

Langkah paling tepat ialah menggunakan benur SPF yang sudah terbukti bebas patogen, sterilisasi tambak sebelum digunakan, supaya spora yang tertinggal bisa musnah, jangan memberi pakan dalam keadaan hidup seperti cacing polychaeta atau artemia karena bisa menjadi carrier, dan yang terakhir rutin melakukan kontrol.

 

Penutup

EHP bekerja secara diam-diam dalam menginfeksi udang, sehingga akan sulit dideteksi oleh petambak. Meski begitu, kerugian yang ditimbulkan akan terasa nyata. Produktivitas tambak menurun, udang tidak mau besar, membuat waktu panen akan tertunda lebih lama. Untuk itu, terapkan biosekuriti yang ketat agar EHP tidak bisa menginfeksi udang.



Baca Juga

Komentar


bottom of page