top of page

Ketika Ikan Sapu-sapu Menguasai Sungai Ciliwung, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 4 jam yang lalu
  • 2 menit membaca

Saat ini, ikan sapu-sapu yang ada di Sungai Ciliwung sudah sangat tidak terkendali populasinya. Peristiwa ini langsung menjadi perhatian peneliti dan pengamat lingkungan. Pasalnya, peningkatan populasi ini bisa saja berhubungan dengan semakin menurunnya kondisi ekologis Sungai Ciliwung.


Sumber: topmetro.new

 

Bukan Asli Indonesia

Ikan sapu-sapu sendiri bukanlah ikan asli dari Indonesia, melainkan berasal dari sungai-sungai yang ada di Amerika Selatan. Ketika mulai masuk ke perairan Indonesia, seperti Sungai Ciliwung, ikan ini menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa.

 

Ikan ini bisa beradaptasi di lingkungan dengan kondisi air yang keruh dan tercemar. Selain itu, proses reproduksinya juga sangat cepat, membuat perkembangannya berjalan drastis. Apalagi tidak ada spesies yang bertindak sebagai predator alaminya, yang kemudian membuat populasinya semakin tidak terkendali.

 

Pertanda Penurunan Kualitas Lingkungan

Meningkatnya populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung, menurut peneliti bukanlah suatu tanda dari perbaikan kualitas lingkungan. Populasi yang semakin meningkat justru menjadi alarm atas kerusakan ekologis yang semakin parah.

 

Sebagai gambaran, ketika ekosistem sungai dalam keadaan sehat dan baik-baik saja, maka ikan yang hidup di sana kebanyakan adalah spesies asli. Apa yang terjadi di Ciliwung justru kebalikannya, populasi ikan asli semakin menurun jumlahnya dan keberadaannya telah digantikan oleh ikan invasif, seperti ikan sapu-sapu.

 

Faktor utama penyebab fenomena ini adalah pencemaran air yang terus-menerus terjadi. Berbagai jenis sampah dan limbah telah memasuki aliran sungai sejak lama, menciptakan kondisi yang tidak ramah bagi spesies ikan endemik.

 

Ikan sapu-sapu unggul dalam kondisi lingkungan seperti ini. Dengan kemampuan reproduksinya yang tinggi, akhirnya ia menjadi spesies dominan di sana, menggeser populasi ikan-ikan asli yang sangat sensitif terhadap pencemaran.

 

Kebingungan Masyarakat Sekitar

Meningkatnya populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung, membuat masyarakat sekitar risau. Ikan dengan populasi melimpah ini dirasa sayang apabila tidak dimanfaatkan dengan baik. Akhirnya, masyarakat sekitar banyak yang menjadikannya sebagai menu santapan harian ataupun dijual untuk berbagai keperluan.

 

Padahal, pemerintah daerah dan otoritas kesehatan setempat sudah menegaskan untuk tidak mengonsumsi ikan tersebut. Alasannya, karena tempat hidupnya yang tercemar, ditakutkan ada akumulasi zat berbahaya dalam dagingnya, sehingga sangat berbahaya apabila dikonsumsi.

 

Kondisi ini memberi gambaran jelas bahwa kerusakan ekosistem sungai tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga terhadap kehidupan manusia yang hidup di sekitarnya.

 

Upaya Pengendalian

Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Triyanto menyarankan beberapa langkah pengendalian yang bisa dilakukan.

 

  • Lakukan monitoring rutin oleh lembaga riset dan pemerintah daerah, tujuannya untuk memetakan distribusi dan kepadatan populasi.

  • Edukasi masyarakat untuk tidak melepas spesies ikan non asli ke perairan umum.

  • Lakukan pengelolaan sungai dengan cara melakukan pembersihan rutin dan memperbaiki kualitas air, sehingga ikan lokal yang sensitif terhadap pencemaran bisa kembali berkembang.

  • Lakukan kajian pemanfaatan alternatif, sehingga populasinya bisa ditekan melalui pemanfaatan yang tepat sasaran, seperti dijadikan bahan pakan ternak atau produk lainnya.

  • Langkah terakhir ialah menerapkan program penangkapan massal dengan melibatkan masyarakat sekitar.



Baca Juga

Komentar


bottom of page