Ikan Sapu-Sapu Serang Malaysia dan Filipina, Bahaya bagi Ekosistem Asia Tenggara
- Redaktur: Audri Rianto
- 6 hari yang lalu
- 2 menit membaca
Populasi ikan sapu-sapu di Indonesia saat ini sudah masuk ke tahap meresahkan. Dominasinya di perairan Indonesia saat ini sudah semakin kuat, terutama di Sungai Ciliwung. Hal ini bisa terjadi karena di Indonesia sendiri tidak ada predator alaminya, sehingga ia semakin leluasa untuk berkembang biak.

Sumber: kumparan.com
Dilansir dari kumparan.com, dominasi ikan sapu-sapu ternyata juga terjadi di negara Malaysia dan Filipina. Ikan ini memberikan ancaman serius terhadap ekosistem perairan di sana sekaligus mengganggu kehidupan para nelayan.
Di kedua negara itu, ikan sapu-sapu punya panggilan tersendiri. Di Malaysia ikan ini dikenal dengan sebutan ikan bandaraya, sedangkan di Filipina disebut janitor fish.
Penyebaran dan Dampak di Malaysia
Meledaknya populasi ikan sapu-sapu di Malaysia sudah terjadi beberapa tahun terakhir. Relawan dan pemancing menyebutkan sudah menangkap sedikitnya 75 ton dari tahun 2023 sampai akhir 2025.
Ikan ini diketahui sangat tahan banting, bisa hidup di air dengan minim oksigen dan tercemar limbah serta tidak ada predator alaminya membuatnya terus berkembang biak tanpa kendala.
Hal ini tentu menciptakan kerusakan masif terhadap ekosistem, terutama dalam menyebabkan erosi di tepi sungai.
Saking sudah lelah dan putus asanya, pemerintah Malaysia bahkan menawarkan insentif untuk warganya yang berhasil menangkap ikan ini.
Invasi di Filipina dan Dampaknya bagi Nelayan
Kejadian tersebut ternyata juga di alami Filipina, hampir semua perairan di sana didominasi oleh ikan sapu-sapu, termasuk di Laguna de Bay, Sungai Pasig, dan wilayah rawa di Mindanao.
Perairan-perairan yang disebutkan merupakan perairan tempat nelayan biasa mencari ikan. Dengan dominasi ikan sapu-sapu yang masif, akibatnya nelayan yang menjadi pihak paling merugi. Ikan sapu-sapu menggeser populasi ikan lokal yang bernilai ekonomis, nelayan jadi kesulitan untuk mendapatkan ikan alhasil pendapatan mereka turun drastis.
Langkah paling realistis yang dilakukan oleh warga Filipina ialah dengan memanfaatkannya menjadi pakan ternak, meskipun tidak bisa secara maksimal menekan populasinya.
Ancaman Regional dan Perlunya Kolaborasi
Invasi ikan sapu-sapu di lintas negara ini menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu telah menjadi masalah di Asia Tenggara. Ancaman yang ditimbulkan juga tidak main-main, karena berhubungan langsung dengan sektor ekologi dan ekonomi.
Butuh penanganan yang tepat, bila perlu lakukan kolaborasi antar negara agar masalah ini benar-benar bisa diselesaikan dengan cepat dan efisien.
Kesimpulan
Invasi ikan sapu-sapu di Malaysia dan Filipina menjadi peringatan bahwa masalah ini tidak bisa dianggap sepele. Diperlukan kolaborasi antarnegara, edukasi masyarakat, serta kebijakan yang tegas untuk mengendalikan populasi ikan ini.
Jika tidak ditangani dengan serius, ikan sapu-sapu berpotensi merusak ekosistem perairan secara permanen dan mengancam keberlanjutan sektor perikanan di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga
