top of page

Ikan Nila: Primadona di Indonesia, di Jepang Malah Dianggap Hama

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 2 hari yang lalu
  • 2 menit membaca

Hampir semua orang yang ada di Indonesia pasti menyukai ikan nila. Ikan ini menjadi primadona karena harganya terjangkau, rasanya enak dan gampang untuk diolah menjadi berbagai menu masakan.


Sumber: gdm.id

 

Walaupun ikan nila sangat populer di Indonesia, ternyata ikan ini malah bernasib beda di Jepang. Di sana, ikan nila tidak dianggap ikan konsumsi, melainkan hama perairan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Berikut ulasan singkatnya.

 

Tulang Punggung Konsumsi Protein Indonesia

Popularitas ikan nila di Indonesia memang tidak bisa diragukan, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa sebagian besar pasti menyukainya. Ikan nila juga termasuk tulang punggung konsumsi protein Indonesia, bahkan di beberapa daerah ikan nila sudah diajukan sebagai menu wajib untuk program MBG (Makan Bergizi Gratis).

 

Tren konsumsi ikan nila di sepanjang tahun 2025 juga terlihat baik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip oleh CNBC Indonesia, rata-rata konsumsi ikan nila per kapita dalam seminggu bisa mencapai 16.477 yang mana angka ini merupakan angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

 

Mengapa masyarakat Indonesia sangat menyukai ikan nila? Ada beberapa kemungkinan, seperti harganya yang ekonomis dibandingkan dengan ikan laut atau ikan air tawar lainnya yang memiliki bentuk mirip, seperti gurame.

 

Alasan kedua, ikan nila termasuk ikan yang gampang untuk dibudidayakan dan waktu panennya juga singkat. Alasan ini yang membuatnya menjadi komoditas favorit para pembudidaya, yang pada akhirnya membuat produksi ikan nila nasional tidak pernah surut.

 

Alasan ketiga, ikan nila termasuk ikan yang fleksibel, dapat dijadikan berbagai masakan, mulai dari bakar, goreng hingga masakan berkuah.

 

Ikan Nila Tidak Diminati Masyarakat Jepang

Kalau di Indonesia dianggap sebagai primadona, di Jepang ikan nila malah tidak dianggap sebagai bahan makanan. Ada beberapa alasan yang membentuk pandangan orang Jepang terhadap ikan nila.

 

Dominasi Ikan Laut

Kita tahu bahwa Jepang termasuk negara dengan tingkat konsumsi ikan yang tinggi, namun ikan yang dikonsumsi adalah ikan laut, seperti tuna, salmon dan makarel. Kebiasaan yang dilakukan berabad-abad ini kemudian merubah pandangan masyarakat Jepang tentang ikan air tawar.

 

Cara Hidup yang Ekstrem

Budaya kuliner di Jepang sangat mengutamakan kesegaran dan kualitas habitatnya. Ikan nila dianggap memiliki cara hidup yang terlalu ekstrem, karena bisa hidup di berbagai kondisi kualitas air. Hal tersebut dianggap kurang memenuhi standar kualitas yang diharapkan kebanyakan konsumen di sana.

 

Dianggap Sebagai Spesies Asing (Invasif)

Ikan nila bukan ikan asli Jepang, sehingga masyarakat di sana menganggapnya sebagai spesies asing yang berpotensi merusak ekosistem lokal. Dalam sejarah kuliner tradisional Jepang, ikan nila juga tidak pernah disinggung. Stigma asing ini membuat ikan nila seperti ‘hantu’, karena keberadaannya ada namun tidak pernah diakui di meja makan.

 

Upaya Rebranding "Izumidai"

Walaupun tidak dianggap sebagai bahan makanan, namun pernah ada upaya untuk memasarkan nila di sana dengan sebutan ‘Izumidai’, yaitu nila yang disajikan dalam bentuk sushi dan sashimi.


Pemberian nama tersebut juga dilakukan agar terdengar mirip ikan Madai (kakap merah) dengan tujuan untuk menarik minat masyarakat. Sayangnya, upaya tersebut juga tidak berhasil mengubah pandangan masyarakat Jepang terhadap ikan nila.

 

Potensi Ekonomi Ikan Nila di Masa Depan

Meskipun di Jepang kurang diminati, potensi ekonomi ikan nila di Indonesia justru semakin cerah. Peningkatan konsumsi masyarakat menunjukkan bahwa ketahanan pangan berbasis protein ikan air tawar menjadi solusi cerdas di tengah fluktuasi harga pangan global.



Baca Juga

Komentar


bottom of page