5 Kesalahan Fatal yang Sering Dilakukan Petambak Pemula
- Redaktur: Audri Rianto
- 6 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Untuk saat ini, budidaya udang masih menjadi salah satu bisnis yang banyak diminati. Hal ini tentu tak jauh dari pandangan masyarakat umum yang menganggap budidaya udang memiliki potensi keuntungan yang besar.

Sumber: radarlampung.disway.id
Potensi keuntungan ini bisa tergambar dari permintaan udang di pasaran yang tak pernah surut, bahkan udang di pasar domestik saja dihargai dengan harga yang lumayan tinggi. Berangkat dari gambaran tersebut, banyak pemula yang kemudian terjebak.
Memulai usaha budidaya udang, namun tidak melakukan riset hingga tuntas, hingga akhirnya banyak melakukan kesalahan yang berujung pada kerugian.
Berikut adalah 5 hal salah kaprah yang sering terjadi ketika memulai bisnis udang yang perlu Anda hindari agar investasi Anda tidak berujung rugi.
1. Budidaya Udang = Cara Cepat Kaya
Banyak orang tertarik untuk melakukan budidaya udang karena melihat petambak lain yang berhasil meraup keuntungan besar dalam sekali panen. Dengan pandangan yang seperti ini, akhirnya terbentuk pola pikir bahwa budidaya udang menjanjikan kaya secara instan.
Kesalahan berpikir sejak awal, membuat pemula beranggapan bahwa udang hanya perlu ditebar di tambak, diberi pakan yang cukup dan diberi aerasi yang memadai, maka ia akan cepat besar dan cepat dipanen.
Padahal, budidaya udang merupakan bisnis yang sangat teknis, membutuhkan pemantauan harian, kualitas air yang terjaga, dan manajemen risiko yang ketat. Jika semua itu tidak dijalankan dengan tekun, maka risiko gagal panen akan menanti.
2. Berpikir Padat Tebar Tinggi akan Lebih Menguntungkan
Banyak pemula yang kurang riset menganggap bahwa menebar benur sebanyak-banyaknya ke dalam tambak, maka panen yang didapat juga akan melimpah. Padahal, menerapkan padat tebar tinggi risikonya sangat tinggi jika tidak diimbangi dengan manajemen yang tepat. Tambak yang diharapkan menghasilkan keuntungan besar malah bisa berakhir tragis dengan kegagalan.
3. Tidak Peduli dengan Kualitas Air
Petambak pemula seringkali tidak memperhatikan kualitas air, padahal kunci sukses budidaya udang terletak di kualitas air. Pemula seringnya hanya fokus pada pemberian pakan yang tidak dikontrol dengan baik. Akibatnya, terjadi penumpukan limbah organik yang tidak terkendali di dasar tambak, membuat lingkungan tambak tidak kondusif dan beracun untuk udang.
4. Menyepelekan Standar Biosekuriti
Kebanyakan pemula menganggap biosekuriti seperti melakukan sterilisasi air melalui penyaringan, pengapuran dan penggunaan desinfektan hanya akan menambah biaya produksi tanpa ada dampak yang signifikan. Pandangan anggap remen ini yang kemudian membuat tambak rawan mengalami serangan hama dan wabah penyakit.
5. Fokus pada Produksi, Lupa pada Rantai Pasar
Kesalahan yang paling sering dilakukan adalah hanya fokus pada produksi, memikirkan bagaimana caranya udang bisa tumbuh besar dan sehat dalam waktu cepat, tapi lupa memikirkan ke mana udang yang dihasilkan akan dijual.
Kesalahan ini kemudian membuat udang dihargai murah atau bahkan banyak yang tidak laku, karena tidak sesuai dengan kriteria pasar. Untuk diketahui, harga udang sangat dipengaruhi oleh size (ukuran) serta kualitas fisiknya.
Petambak sebaiknya sudah menargetkan dari awal budidaya untuk menghasilkan udang dengan ukuran yang jelas serta sudah memiliki koneksi dengan supplier, sehingga ketika panen tiba, udang akan langsung terjual.
Baca Juga




Komentar