5 Fakta Ikan Red Devil yang Menjajah Danau Toba
- Redaktur: Audri Rianto
- 11 Des 2025
- 2 menit membaca
Danau Toba merupakan salah satu danau vulkanik terbesar di dunia dan merupakan salah satu icon wisata di Indonesia. Saat ini, Danau Toba sedang menghadapi masalah ekologis akibat perkembangan ikan Red Devil yang masif. Menurut laporan, ikan ini sudah banyak ditemukan di beberapa titik dan mulai membuat resah para nelayan yang ada di sana.

Sumber: kompas.com
Jika dilihat dari penampakannya, ikan ini memang terlihat cantik dengan warnanya yang mencolok. Namun, jangan tertipu hanya dari kecantikannya, karena ikan ini punya perilaku yang membahayakan ikan-ikan lokal yang ada di sana. Untuk lebih jelasnya mengenai ikan ini, sebaiknya Anda menyimak beberapa fakta menarik berikut.
Bukan Asli Indonesia
Ikan Red Devil bukanlah ikan asli dari Indonesia, keberadaannya di Danau Toba juga menimbulkan pertanyaan, bagaimana ia bisa masuk dan menginvasi perairan tersebut. Ikan ini sebenarnya berasal dari Danau Managua dan Danau Nikaragua di Amerika Tengah.
Dari awal kemunculan ikan ini di Indonesia ialah dipelihara sebagai ikan hias. Dari situ muncul dugaan bahwa ada orang yang dengan sengaja memasukkan ikan tersebut ke Danau Toba karena suatu alasan yang kemudian membuatnya berkembang secara masif hingga saat ini.
Ikan Predator yang Rakus
Walaupun ikan ini cenderung terlihat sebagai pemakan daging, ternyata ikan ini masuk ke dalam golongan omnivora yang hidup dengan memakan segalanya, mulai dari ikan kecil, cacing sampai tumbuhan akuatik.
Selain rakus, ikan ini juga sering berperan sebagai predator, maka tak heran jika ia akan memakan ikan endemik yang ada di suatu perairan dan menguasai perairan tersebut.
Masuk ke Indonesia dari Tahun 1990-an
Ikan ini pertama kali masuk ke Indonesia di tahun 1990-an sebagai ikan hias yang didatangkan dari Malaysia dan Singapura. Beberapa penghobi kemudian dengan sengaja melepaskannya ke perairan tanpa tahu bahw ikan ini sangat agresif dan invasif, akhirnya populasinya menjadi tak terkontrol hingga saat ini.
Mudah Berkembang Biak dan Beradaptasi
Daya adaptasinya tinggi, ia bisa hidup di perairan tropis seperti di Indonesia dengan suhu 21–26 °C dan pH 6,0–8,0. Ikan betinanya bisa menghasilkan telur ribuan dan bisa bertelur di sepanjang tahun. Selain itu, ikan ini juga berumur panjang bisa sampai 12 tahun hidup.
Dilarang di Indonesia
Setelah tahu sifat asli ikan ini yang agresif dan dapat merusak populasi ikan asli, maka Indonesia membuat aturan untuk melarang ikan ini ada di Indonesia. Larangan tersebut dituangkan dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 41/PERMEN-Kp/2014.
Penutup
Meskipun dari segi penampilan ikan ini sangat menarik untuk dipelihara, namun memiliki dampak besar terhadap ekosistem perairan. Sifatnya yang agresif dan cenderung memangsa ikan lokal, maka sudah sepatutnya keberadaannya dilarang di Indonesia demi melindungi keanekaragaman hayati lokal.
Baca Juga




Komentar