top of page

Strategi Baru RI: Kirim Ikan Budidaya ke Arab Saudi untuk Kebutuhan Haji

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 1 hari yang lalu
  • 2 menit membaca

Indonesia adalah salah satu negara yang rutin melakukan ekspor perikanan ke berbagai negara, dan kali ini Indonesia membidik Arab Saudi sebagai target ekspor selanjutnya. Saat ini, Indonesia sedang mempersiapkan ekspor produk perikanan ke sana sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jamaah haji nanti.


 

Langkah ini cukup brilian, karena selain untuk memperkuat ekosistem pangan haji dan umrah, ini juga menjadi peluang Indonesia membuka pasar baru.

 

Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Ishartini mengatakan bahwa KKP saat ini sudah membentuk tim terpadu yang tugasnya mengatur seluruh aspek produksi, mulai dari kualitas produk sampai mempersiapkan persyaratan administratif yang diminta pihak Arab Saudi.

 

Untuk saat ini, tahap negosiasi antara pemerintah dengan Saudi Food and Drug Authority (SFDA) sedang berlangsung. Meskipun izin resminya belum diterbitkan, namun pemerintah mengatakan bahwa persyaratan yang diberikan Arab Saudi terkait mutu dan standar keamanan produk perikanan budidaya sudah berhasil dipenuhi oleh Indonesia.

 

Potensi Ekspor Ikan Budidaya Indonesia

Ekspor produk perikanan budidaya Indonesia punya potensi yang besar, bisa dilihat dari data terbaru KKP mengenai total produksi budidaya nasional pada tahun 2024 yang mencapai 15,75 juta ton.

 

Dengan volume sebanyak itu, tentu peluang untuk mengekspor produk perikanan berkualitas tinggi, terutama ikan budidaya akan semakin terbuka lebar.

 

Targetnya, ekspor ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan jamaah haji asal Indonesia, tapi juga untuk memenuhi kebutuhan jamaah umrah sepanjang tahun ini dan tahun-tahun berikutnya.

 

Konsumsi ikan segar dan olahan merupakan bagian penting dari menu pangan jamaah Indonesia di Arab Saudi, selain daging, ayam, dan telur. Bahkan di beberapa sumber, pemerintah mempertimbangkan pengiriman hingga 600–700 ton ikan patin untuk musim haji mendatang.

 

Strategi Pemerintah Dalam Menangkap Peluang

Agar rencana ini berjalan lancar, KKP terus aktif melakukan koordinasi dengan otoritas terkait, dalam hal ini adalah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), embassy Indonesia di Riyadh, serta Kementerian Agama terkait haji dan umrah.

 

Komunikasi antar otoritas ini difokuskan untuk memastikan persyaratan ekspor terpenuhi, menjamin kualitas produk serta memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar global.

 

Jika rencana ini disetujui oleh Arab Saudi, maka otomatis ekspor ikan budidaya akan menjadi bagian penting dari rantai pasok pangan haji yang ditargetkan pemerintah.

 

Langkah ini diharapkan tidak hanya mengangkat sektor perikanan nasional tetapi juga meningkatkan nilai ekspor non-migas Indonesia ke Timur Tengah, memperluas jaringan perdagangan, dan mendorong perekonomian nasional.

 

Manfaat Bagi Konsumsi Jamaah Haji

Jika terealisasi, ekspor ikan budidaya ke Arab Saudi akan memberikan manfaat langsung terhadap jamaah haji Indonesia, terutama dari segi pemenuhan sumber protein hewani yang lebih beragam.

 

Ikan seperti nila dan patin memiliki kandungan gizi yang tinggi serta sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia, sehingga jamaah tidak perlu beradaptasi lagi.

 

Ketika program ini berjalan, konsumsi pangan jamaah haji asal Indonesia dapat lebih terjamin kualitas, kuantitas, dan keberlanjutannya.

 


Baca Juga

Komentar


bottom of page